Motto Santri :

Utlubul Ilma Minal Mahdi Ilallahdi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jumat, 26 Juni 2009

Allah Selalu Bersamamu

Salah satu bekal yang penting diberikan para orang tua kepada anak-anaknya adalah upaya
menumbuhkan rasa optimis pada diri anak dalam menghadapi kehidupan yang sarat dengan
problema. Cara terbaik untuk mencapai hal tersebut adalah dengan mengenalkan pada anak
akan pertolongan Allah yang diberikan kepada setiap hamba-Nya yang beriman. Anak perlu
dipahamkan bahwa bila Allah telah memberikan pertolongan-Nya, maka permasalahan
seberat apapun akan bisa diselesaikan.

Anak, dengan segala keunikan yang ada pada pribadinya, tidak terlepas dari permasalahan,
baik berkenaan dengan dirinya, tempat belajarnya, ataupun orang-orang di sekelilingnya.
Begitu pun sisi berat ringannya permasalahan yang dihadapi berbeda-beda antara satu anak
dengan yang lainnya. Tak jarang dijumpai dalam keseharian anak-anak yang begitu penakut
terhadap segala sesuatu yang tak pantas dikhawatirkan. Semua itu terkadang membuat orang
tua berkerut dahi, dengan jalan apa kiranya mengatasi hal-hal semacam ini?
Jika demikian, tentu sang anak membutuhkan bekal untuk menghadapi setiap problema yang
dihadapinya. Dia membutuhkan bimbingan agar senantiasa merasakan pengawasan Rabb-
nya, meminta hanya kepada-Nya, disertai keyakinan yang kokoh terhadap ketetapan dan
takdir-Nya.
Ketika itulah selayaknya orang tua melihat kembali, bagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam menanamkan optimisme dan kebesaran jiwa pada diri anak, agar menghadapi
gelombang kehidupan ini dengan keberanian dan penuh harapan, hingga kelak mereka
menjadi sesosok pribadi yang bermanfaat bagi umat ini. Beliau pesankan kepada putra
pamannya, Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu 'anhuma:
ٍت ﺎ َﻤ ِﻠ َآ َﻚ ُﻤ ﱢﻠ َﻋ ُأ ﻲﱢﻧِإ ،ُمَﻼُﻏ ﺎَﻳ . َﻚ َه ﺎ َﺠ ُﺗ ُﻩ ْﺪ ِﺠ َﺗ َﷲ ا ِﻆ َﻔ ْﺣ ِا ،َﻚْﻈَﻔْﺤَﻳ َﷲ ا ِﻆ َﻔ ْﺣ ا . ِﷲ ﺎ ِﺑ ْﻦ ِﻌ َﺘ ْﺳ ﺎ َﻓ َﺖ ْﻨ َﻌ َﺘ ْﺳ ا اَذِإَو َﷲ ا ِل َﺄ ْﺳ ﺎ َﻓ َﺖ ْﻟ َﺄ َﺳ اَذِإ . ْﻢ َﻠ ْﻋ ا َو
ْﻢ َﻟ ٍﺊ ْﻴ َﺸ ِﺑ َك و ﱡﺮ ُﻀَﻳ ْن َأ ﻰَﻠَﻋ ا ﻮ ُﻌ َﻤ َﺘ ْﺟ ا ِن ِإ َو َﻚ َﻟ ُﷲ ا ُﻪ َﺒ َﺘ َآ ْﺪ َﻗ ٍء ْﻲ َﺸ ِﺑ ﱠﻻ ِإ َك ﻮ ُﻌ َﻔ ْﻨ َﻳ ْﻢ َﻟ ٍء ْﻲ َﺸ ِﺑ َك ﻮ ُﻌ َﻔ ْﻨ َﻳ ْن َأ ﻰَﻠَﻋ ْﺖ َﻌ َﻤ َﺘ ْﺟ ا ِﻮ َﻟ َﺔ ﱠﻣ ُﻷ ا ﱠن َأ
َﻚ ْﻴ َﻠ َﻋ ُﷲ ا ُﻪ َﺒ َﺘ َآ ْﺪ َﻗ ٍء ْﻲ َﺸ ِﺑ ﱠﻻ ِإ َك و ﱡﺮ ُﻀَﻳ . ُﻒ ُﺤ ﱡﺼﻟ ا ِﺖ ﱠﻔ َﺟ َو ُم َﻼ ْﻗ َﻷ ا ِﺖ َﻌ ِﻓ ُر . َل ﺎ َﻗ َو يِﺬِﻣْﺮﱢﺘﻟا ُﻩ ا َو َر : ٌﺢ ْﻴ ِﺤ َﺻ ٌﻦ َﺴ َﺣ ٌﺚ ْﻳ ِﺪ َﺣ .
يِﺬِﻣْﺮﱢﺘﻟا ِﺮ ْﻴ َﻏ ِﺔ َﻳ ا َو ِر ﻲِﻓَو : َﻚ َﻣ ﺎ َﻣ َأ ُﻩ ْﺪ ِﺠ َﺗ َﷲ ا ِﻆ َﻔ ْﺣ ا . ِة ﱠﺪ ﱢﺸ ﻟ ا ﻲِﻓ َﻚ ْﻓ ِﺮ ْﻌ َﻳ ِء ﺎ َﺧ ﱠﺮ ﻟ ا ﻲِﻓ ِﷲ ا ﻰَﻟِإ ْف ﱠﺮ َﻌ َﺗ . ْﻦ ُﻜ َﻳ ْﻢ َﻟ َك َﺄ َﻄ ْﺧ َأ ﺎَﻣ ﱠن َأ ْﻢ َﻠ ْﻋ ا َو
َﻚ َﺌ ِﻄ ْﺨ ُﻴ ِﻟ ْﻦ ُﻜ َﻳ ْﻢ َﻟ َﻚ َﺑ ﺎ َﺻَأ ﺎَﻣَو َﻚ َﺒ ْﻴ ِﺼُﻴ ِﻟ . اًﺮْﺴُﻳ ِﺮ ْﺴ ُﻌ ﻟ ا َﻊ َﻣ ﱠن َأ َو ِب ْﺮ َﻜ ﻟ ا َﻊ َﻣ َج َﺮ َﻔ ﻟ ا َﱠن َأ َو ِﺮ ْﺒ ﱠﺼﻟ ا َﻊ َﻣ َﺮ ْﺼﱠﻨ ﻟ ا ﱠن َأ ْﻢ َﻠ ْﻋ ا َو
“Wahai anak(ku), sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah
Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia ada di
hadapanmu. Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon
pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini
berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikannya
kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk
menimpakan mudharat kepadamu, mereka tidak akan dapat menimpakannya kecuali apa
yang telah Allah tetapkan menimpamu. Telah diangkat pena, dan telah kering lembaran-
lembaran.” (Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dan beliau berkata: hadits hasan
shahih).1
Dan dalam riwayat selain At-Tirmidzi: “Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia di
hadapanmu. Kenalilah Allah dalam keadaan lapang, niscaya Dia akan mengenalimu dalam
keadaan susah. Ketahuilah, sesungguhnya apa yang ditetapkan luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang ditetapkan menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah,
pertolongan itu berrsama kesabaran, kelapangan itu bersama kesusahan, dan bersama
kesulitan itu ada kemudahan.”
Inilah kalimat yang agung dan mulia dari lisan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
seakan beliau mengatakan: Jagalah batasan-batasan dan syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala
dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, juga dengan mempelajari
agama-Nya hingga engkau dapat menunaikan ibadah dan muamalahmu. Jagalah semua itu,
niscaya Dia akan menjaga agama, keluarga, harta maupun dirimu, karena Allah Subhanahu
wa Ta'ala memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik atas kebaikannya.
Sementara balasan yang paling penting adalah penjagaan-Nya terhadap agamamu serta
menyelamatkan dirimu dari kesesatan.
Sebaliknya, seseorang yang menelantarkan agama Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka Allah
Subhanahu wa Ta'ala pun akan menelantarkan dirinya dan dia tidak berhak mendapatkan
penjagaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana firman-Nya:
َن ْﻮ ُﻘ ِﺳ ﺎ َﻔ ْﻟ ا ُﻢ ُه َﻚ ِﺌ َﻟ و ُأ ْﻢ ُﻬ َﺴ ُﻔ ْﻧ َأ ْﻢُهﺎَﺴْﻧَﺄَﻓ َﷲ ا اﻮُﺴَﻧ َﻦ ْﻳ ِﺬ ﱠﻟ ﺎ َآ ا ﻮ ُﻧ ْﻮ ُﻜ َﺗ َﻻ َو
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah jadikan
mereka lupa pada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)
Pesan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini juga memberikan pelajaran pada seorang
anak untuk meminta ataupun memohon pertolongan hanya kepada Allah semata, tidak
memintanya kepada makhluk. Karena Dialah yang memiliki kerajaan langit dan bumi.
Namun, tidak terlarang untuk meminta pertolongan kepada makhluk pada hal-hal yang
mampu dia lakukan. Kalaupun dia harus meminta sesuatu atau mencari pertolongan kepada
makhluk, maka sesungguhnya makhluk itu hanyalah sebab dan Allahlah yang menciptakan
sebab, hingga kepada-Nyalah harus bersandar.
Demikian pula segala kebaikan yang diberikan dan bahaya yang ditimpakan oleh makhluk,
semuanya telah ditetapkan oleh Allah. Namun, bukan berarti seseorang tidak diperkenankan
untuk menolak bahaya dari dirinya, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ﺎَﻬُﻠْﺜِﻣ ٌﺔ َﺌ ﱢﻴ َﺳ ٍﺔ َﺌ ﱢﻴ َﺳ ُء ا َﺰ َﺟ َو
“Dan balasan kejelekan itu adalah kejelekan yang semisal.” (Asy-Syura: 40)

Oleh karena itu, seorang hamba harus menggantungkan harapannya kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala dan tidak berpaling sedikit pun kepada makhluk, karena makhluk tidak memiliki
kekuasaan sedikit pun untuk memberi manfaat maupun menimpakan bahaya.
Begitu pun nasihat ini berisi anjuran untuk menunaikan hak Allah di saat lapang, sehat dan
berkecukupan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mengenalinya ketika berada dalam
kesusahan, hingga Dia ringankan penderitaannya, menolong dan menghilangkan
kesusahannya itu.
Ditemui pula pengajaran pada sang anak bahwa apa pun yang ditetapkan akan menimpa tak
akan dapat ditolak. Dan apa pun yang tidak ditetapkan tak akan bisa diraih, karena Allah
telah menetapkan semua itu.
Di dalam nasihat ini juga terdapat anjuran agar bersabar untuk memperoleh pertolongan.
Kesabaran ini mencakup sabar untuk taat kepada Allah, sabar dalam menjauhi maksiat
kepada Allah, dan sabar di atas ketetapan Allah yang ‘menyakitkan’ (menurut manusia, red).
Inilah kabar gembira bagi orang yang bersabar, karena pertolongan akan mengiringi
kesabaran. Inilah kabar gembira bahwa kelapangan itu mengiringi kesusahan. Hendaknya
pula ketika ditimpa kesulitan, seorang hamba bersandar diri kepada Allah dengan menanti-
nantikan kemudahan dari Allah serta membenarkan janji Allah, karena Allah telah
mengatakan di dalam Kitab-Nya yang mulia: اًﺮْﺴُﻳ ِﺮ ْﺴ ُﻌ ْﻟ ا َﻊ َﻣ ﱠن ِﺈ َﻓ . اًﺮْﺴُﻳ ِﺮ ْﺴ ُﻌ ْﻟ ا َﻊ َﻣ ﱠن ِإ
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama
kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah: 5-6)[Dirangkum dari Syarh Al-Arba’in An-
Nawawiyyah, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah2]
Di waktu yang lain, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan nasihat yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
ِﻒ ْﻴ ِﻌ َﻀﻟ ا ِِﻦ ِﻣ ْﺆ ُﻤ ﻟ ا َﻦ ِﻣ ِﷲ ا ﻰَﻟِإ ﱡﺐ َﺣ َأ َو ٌﺮ ْْﻴ َﺧ يِﻮَﻘﻟا ُﻦ ِﻣ ْﺆ ُﻤ ﻟ ا . ﺮْﻴَﺧ ﱟﻞ ُآ ﻲِﻓَو . ْﺰ ِﺠ ْﻌ َﺗ َﻻ َو ِﷲ ﺎ ِﺑ ْﻦ ِﻌ َﺘ ْﺳ ا َو َﻚ ُﻌ َﻔ ْﻨ َﻳ ﺎَﻣ ﻰَﻠَﻋ ْصِﺮ ْﺣ ِا ٌ . ْن ِإ َو
ْﻞ ُﻘ َﺗ َﻼ َﻓ ٌء ْﻲ َﺷ َﻚ َﺑ ﺎ َﺻَأ : اَﺬَآَو اَﺬَآ َن ﺎ َآ ُﺖ ْﻠ َﻌ َﻓ ﻲﱢﻧَأ ْﻮ َﻟ . ْﻞ ُﻗ ْﻦ ِﻜ َﻟ َو : َﻞ َﻌ َﻓ َء ﺎ َﺷ ﺎَﻣَو ِﷲ ا ُر َﺪ َﻗ . ِن ﺎ َﻄ ْﻴ ﱠﺸ ﻟ ا َﻞ َﻤ َﻋ ُﺢ َﺘ ْﻔ َﺗ ْﻮ َﻟ ﱠن ِﺈ َﻓ
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang
lemah, dan pada masing-masing dari keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah untuk
melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta
jangan merasa lemah. Apabila engkau ditimpa sesuatu, janganlah mengatakan ‘Seandainya
aku dulu melakukan begini dan begini’, namun katakanlah ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa
pun yang Allah kehendaki pasti Allah lakukan’ karena ucapan ‘seandainya’ itu membuka
amalan setan.” (HR. Muslim no. 2664)
Yang dimaksud dengan kuat dalam ucapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini
adalah jiwa yang kokoh dan bersemangat terhadap perkara akhirat. Sehingga orang yang
seperti ini menjadi orang yang paling pemberani terhadap musuh, paling cepat bertolak ke
medan jihad, paling teguh dalam memerintahkan orang lain pada kebaikan dan mencegah
dari kemungkaran, dan bersabar dalam menempuh semua itu, serta tabah dalam menempuh
kesusahan karena mengharap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dia pun menjadi orang yang
paling senang menunaikan shalat, puasa, dzikir, maupun seluruh ibadah, bersemangat pula
untuk menjalankan dan menjaganya. Akan tetapi, baik orang yang kuat maupun orang yang
lemah memiliki kebaikan karena mereka sama-sama beriman, juga karena ibadah yang
dilakukan oleh orang yang lemah itu.
Dianjurkan pula oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk bersemangat dalam
berbuat ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menginginkan apa yang ada di sisi-
Nya, serta memohon pertolongan kepada-Nya untuk mendapatkan itu semua. Hendaknya
seorang hamba tidak merasa lemah dan malas untuk mencari amalan ketaatan dan memohon
pertolongan dari-Nya. (Syarh Shahih Muslim)
Inilah yang semestinya tergambar dalam sosok pribadi seorang anak. Tak ada salahnya bila
suatu ketika orang tua menuturkan kisah-kisah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang
perjalanan hidup orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala beri kemuliaan, yang sarat
dengan optimisme dan keyakinan kepada Rabb-nya. Karena anak senang dengan cerita dan
biasanya berbekas dalam jiwanya. Salah satunya dituturkan oleh Shuhaib bin Sinan
radhiallahu 'anhu3 dari apa yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
Dulu hidup seorang raja yang memiliki seorang tukang sihir. Ketika usia tukang sihir itu
telah menua, ia berkata kepada sang raja, “Sesungguhnya aku ini telah tua, maka utuslah
padaku seorang pemuda yang dapat kuajari sihir.” Lalu raja pun mengirim seorang pemuda
untuk diajari sihir. Di tengah jalan yang biasa dilalui pemuda itu menuju tukang sihir ada
seorang rahib. Pemuda itu singgah duduk dan mendengarkan ucapan sang rahib. Dia pun
merasa takjub. Maka demikianlah bila dia mendatangi tukang sihir, dia melewati rahib lalu
duduk di hadapannya. Bila tiba di hadapan tukang sihir, tukang sihir itu pun memukulnya.
Dia adukan hal itu kepada rahib. Si rahib menjawab, “Kalau engkau khawatir terhadap
tukang sihir, katakan padanya ‘Keluargaku menahanku’, dan kalau engkau khawatir terhadap
keluargamu, katakan ‘Tukang sihir menahanku’.”
Demikian terus berlangsung sampai suatu saat, muncul seekor binatang besar yang
menghalangi jalan manusia. Pemuda itu berkata, “Pada hari ini aku akan mengetahui, apakah tukang sihir yang lebih utama ataukah rahib.” Lalu diambilnya sebuah batu sambil berkata,
“Ya Allah, bila ajaran rahib lebih Engkau cintai daripada ajaran tukang sihir, matikanlah
binatang ini, hingga manusia dapat lewat kembali.” Dilemparnya binatang itu hingga
akhirnya mati dan orang-orang pun dapat melewati jalan itu lagi.
Kemudian dia datang kepada rahib dan menceritakan apa yang terjadi. Mendengar itu rahib
berkata, “Wahai anakku, sekarang engkau lebih utama daripadaku, engkau telah mencapai
kedudukan sebagaimana yang kulihat, dan nanti engkau akan diuji. Jika engkau
mendapatkan ujian, jangan sekali-kali menunjuk padaku.”
Pemuda itu pun dapat mengobati orang yang buta sejak lahir, orang yang berpenyakit sopak
ataupun segala penyakit. Hal itu didengar oleh seorang pendamping raja yang buta. Dia pun
mendatangi pemuda itu dengan membawa banyak hadiah, lalu berkata, “Semua yang di
hadapanmu ini menjadi milikmu kalau engkau bisa menyembuhkanku.” Si pemuda
menjawab, “Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah
Allah. Kalau engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa agar Allah
menyembuhkanmu.” Pendamping raja itu pun beriman dan Allah pun menyembuhkannya.
Pendamping raja itu kembali duduk di sisi raja sebagaimana biasanya. Sang raja bertanya,
“Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” “Rabbku,” jawab pendamping raja. “Apakah
engkau punya rabb selain aku?” tanya raja lagi. “Rabbku dan Rabbmu adalah Allah,”
jawabnya.
Sang raja pun menangkapnya dan terus-menerus menyiksanya sampai akhirnya pendamping
raja itu menunjukkan si pemuda. Didatangkanlah pemuda itu dan dia mengatakan,
“Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah
Allah.” Mendengar itu, raja segera menangkapnya dan terus-menerus menyiksanya sampai
pemuda itu menunjukkan si rahib. Didatangkan pula si rahib dan dikatakan padanya, “Keluar
dari agamamu!” Rahib itu menolak. Raja meminta sebilah gergaji, lalu digergajilah tepat di
tengah-tengah kepala rahib hingga terbelah dua badannya. Kemudian didatangkan
pendamping raja dan dikatakan pula, “Keluar dari agamamu!” Akan tetapi dia menolak
hingga digergaji tepat di tengah kepalanya sampai terbelah dua badannya.
Setelah itu didatangkan si pemuda dan dikatakan juga padanya, “Keluar dari agamamu!” Dia
pun menolak, hingga raja menyerahkannya pada para pengawal, “Bawa dia naik ke gunung.
Kalau kalian telah sampai di puncak, tawarkanlah kalau dia mau keluar dari agamanya.
Kalau tidak, lemparkan dia!” Mereka membawa pemuda itu naik ke gunung. Pemuda itu
berdoa, “Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.”
Tiba-tiba gunung itu bergoncang dahsyat hingga para pengawal itu berjatuhan dari atas
gunung. Pulanglah pemuda itu dengan berjalan kaki ke hadapan raja. Raja pun bertanya
heran, “Apa yang mereka lakukan?” Jawab pemuda itu, “Allah menyelamatkanku dari
mereka.”
Kemudian raja kembali menyerahkannya pada pengawal, “Bawalah dia dengan perahu
hingga ke tengah lautan, lalu tawarkan kalau dia mau keluar dari agamanya. Kalau tidak,
lemparkan dia ke lautan.” Mereka pun membawanya ke tengah lautan. Pemuda itu lalu
berdoa, “Ya Allah, selamatkan aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.” Tiba-
tiba perahu itu terbalik hingga para pengawal raja tenggelam. Pemuda itu pulang ke hadapan
raja dengan berjalan kaki. Raja bertanya lagi, “Apa yang mereka lakukan?” Pemuda itu
menjawab, “Allah menyelamatkanku dari mereka.”
Pemuda itu berkata lagi, “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai
engkau laksanakan saranku.” “Apa itu?” tanya raja. “Engkau kumpulkan manusia di sebuah
tanah lapang, dan engkau salib aku pada sebatang pohon. Lalu ambil sebuah anak panah dari
tempat anak panahku dan letakkan di busur. Kemudian ucapkan ‘Dengan nama Allah, Rabb

pemuda ini’ lalu panahlah. Kalau engkau lakukan ini, engkau akan bisa membunuhku.”
Raja segera mengumpulkan manusia di suatu tanah lapang dan menyalib pemuda itu pada
sebatang pohon. Lalu diambilnya anak panah dari tempatnya kemudian diletakkan di
busurnya sambil berkata, “Dengan nama Allah, Rabb pemuda ini.” Dilontarkannya anak
panah tepat mengenai dahi pemuda itu. Pemuda itu pun meletakkan tangannya di dahinya, di
tempat sasaran anak panah, lalu meninggal.
Menyaksikan hal itu, manusia pun berkata, “Kami beriman kepada Rabb pemuda itu! Kami
beriman kepada Rabb pemuda itu! Kami beriman kepada Rabb pemuda itu!”
Disampaikanlah kepada raja, “Tidakkah engkau melihat apa yang engkau khawatirkan?
Demi Allah, sungguh telah terjadi apa yang engkau takutkan. Manusia telah beriman.” Maka
raja memerintahkan untuk dibuat parit besar di setiap pintu kota dan dinyalakan api di
dalamnya. Raja berkata, “Barangsiapa yang tidak mau keluar dari agamanya, lempar dan
bakar dia di dalamnya!” Perintah itu pun segera dilaksanakan.
Suatu ketika, datang seorang wanita membawa anaknya yang masih kecil. Dia merasa
bimbang untuk masuk ke dalam api. Tiba-tiba berucaplah sang anak, “Bersabarlah wahai
ibu, sesungguhnya engkau di atas kebenaran.”
Inilah di antara banyak kisah yang memberikan gambaran tentang keadaan seorang mukmin
yang senantiasa bersandar kepada Allah untuk mendapatkan jalan keluar dari
permasalahannya. Semogalah tuturan ini memberikan bekas kebaikan yang tertanam dalam
jiwa anak-anak.
Wallahu a’lamu bish shawab.

1 Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/2043 dan Al-
Misykat no. 5302.
2 Diambil dari www.binothaimeen.com
3 Diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahihnya no. 3005

Tidak ada komentar: