Motto Santri :

Utlubul Ilma Minal Mahdi Ilallahdi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jumat, 25 Juni 2010

Ketika Sombong Menyusupi Hati

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bismillâh. Alhamdulillâh. Ku mulakan bingkisan ini dengan memanjatkan setinggi-tinggi pujian hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Seindah shalawat dan salam istimewa teruntuk Rasulullah Saw., begitu jua bagi keluarganya yang disucikan, para sahabatnya yang dimuliakan, serta muslimin-muslimah seluruhnya hingga hari yang dijanjikan.

Saudaraku, mohon maaf sejuta kemaafan, bila tulisanku ini bisa mengguris rasa, menyentuh sudut jiwa murnimu yang sunyi. Aku tahu siapalah diriku, yang dengan segenap kelemahannya mengirimkan tulisan ini bagi tatapan matamu. Namun, itulah indahnya kebersamaan di jalan Allah, di mana nasihat-menasihati adalah hal yang biasa. Semoga kau tak bosan membaca tulisanku ini.

Sadarilah, wahai saudaraku, bahwa engkau tidaklah lebih dari setetes air mani yang hina, lemah dan menjijikkan. Jika dibiarkan satu jam saja, air itu akan rusak dan membusuk. Dari air inilah kau diciptakan. Lalu dengan rahmat Allah kau dijadikan segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, dan akhirnya kau lahir sebagai bayi mungil yang lemah tiada berdaya. Kalau kau menyadari akan hakikat dirimu ini, mengapa masih bersikap sombong?

“Apakah manusia mengira, bahwa dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian (mani itu) menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Dia menjadikan dirinya sepasang laki-laki dan perempuan?” (QS. Al-Qiyâmah: 36-39)

Saudaraku, sebagai saudara aku hanya dapat berpesan kepadamu, jauhilah sifat sombong ini, karena ia merupakan penyakit hati yang sangat mematikan dan telah banyak menelan korban. Dan aku tak ingin, dirimu menjadi korban kesombongan berikutnya. Lihatlah, betapa Tuhanmu telah memperingatkanmu dengan firman-Nya:

“Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya….” (QS. Al-A‘râf: 146)

Subhânallâh! Apa jadinya jika kita benar-benar dipalingkan dari tanda-tanda kekuasaan Allah? Mungkinkah kita mampu mengenali dan ma‘rifat kepada-Nya, bila dari tanda-tanda-Nya saja kita sudah dipalingkan? Hal itu karena Dia sangat membenci orang-orang yang memiliki sifat sombong. Firman-Nya:

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan kamu tidak akan sampai menjulang setinggi gunung. Semua itu, kejahatannya sangat dibenci di sisi Tuhanmu.” (QS. Al-Isrâ’: 37-38)

Rasulullah Saw., sendiri merasa perlu mengingatkan kita. Jangan izinkan sifat sombong ini menyusupi hati, sekecil apa pun, karena resikonya sangat besar dan akibatnya pun sangatlah fatal. Beliau bersabda:

“Barang siapa yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji atom dari kesombongan, niscaya Allah akan mencampakkan wajahnya ke dalam api neraka.” (HR. Ahmad dan Baihaqi dalam Syu’abul Îmân. Al-Hafizh Al-Iraqi berkata: ‘Sanadnya shahîh’. Lihat Takhrîj al-Ihyâ’, hlm. 1934)

Nah, renungkanlah, hai saudaraku. Bagaimana mungkin engkau akan berlaku sombong lagi membanggakan diri, padahal engkau belum tahu dengan tangan mana engkau akan memperoleh catatan amalmu di akhirat nanti? Apakah kesombongan dan rasa bangga diri itu masih tersisa saat kau berdiri menanti putusan dari Tuhanmu? Astaghfirullâh! Mari, meraba hati ini. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya padaku dan kepadamu.

Ya Rabb, sungguh kami tak pernah berputus harapan dari rahmat-Mu. Sepanjang hidup kami, Engkau tidak pernah melimpahkan sesuatu pun kepada kami selain kebaikan. Bertubi-tubinya kebaikan yang Engkau curahkan kepada kami menunjukkan betapa sayangnya Engkau kepada kami. Maka, demikian pula yang kami harapkan dari-Mu sesudah kematian kami. Âmîn.

Hadânallâh wa iyyâkum ajma‘în.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Catatan: Materi ini pernah diberikan pada awal-awal Majelis ini berdiri. Semoga pengulangan ini dapat disikapi dengan 'arif. Amin.

Tidak ada komentar: