Motto Santri :

Utlubul Ilma Minal Mahdi Ilallahdi
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 02 Agustus 2010

Bukan Sekedar Ucapan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bukan Sekedar Ucapan



Sesungguhnya sholat kita, sembelihan kita, hidup kita dan mati kita hanyalah untuk Allah ‘azza wa jalla dan tidak untuk selainnya. Demikianlah yang seharusnya senantiasa terpatri dalam hidup dan kehidupan setiap muslim.


Hal ini merupakan realisasi dan perwujudan nyata dari sebuah kalimat yang agung yaitu ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) Tiada Sesembahan yang Benar Disembah Melainkan Hanya Allah ‘Azza wa Jalla Semata.


Namun sayang sungguh sangat disayangkan demikian banyak orang yang mengucapkan kalimat ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) namun tidak mengerti konsekwensinya yang ia adalah rukun dan syarat[1] diterimanya kalimat tersebut.


Penjelasan tentang hal ini tidaklah luput dari perhatian Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi was sallam bahkan ia adalah misi terbesar diutusnya para Nabi dan Rosul yaitu untuk menegakkan kalimat (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) dan merealisasikannya. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas melalui hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim rohimahullah dalam kitab Shohihnya,


مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Barangsiapa yang mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah dan kufur/mengingkari terhadap seluruh ibadah kepada selain Allah (maka) darahnya dan hartanya haram (terlindungi) sedangkan hisabnya (perhitungan amalmya) di sisi Allah”[2].


Hadits yang mulia ini adalah seagung-agung dan sejelas-jelasnya dalil yang menjelaskan bahwa sekedar mengucapkan kalimat (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) tidaklah memasukkan seseorang ke dalam islam. Melainkan harus ada padanya 2 unsur yang merupakan hakikat dari tafsir tauhid yaitu penetapan seluruh tauhid uluhiyah hanya kepada Allah semata dan peniadaaan seluruh tauhid uluhiyah terhadap selain Allah[3].


Pada hadits yang mulia ini Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam jelas mengaitkan adanya keterlindungan jiwa dan harta dengan 2 hal yaitu,

[1.] Dengan mengucapkan kalimat (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ)

[2.] Dengan mengingkari (baik dengan secara lahir dan bathin pent.) seluruh bentuk peribadatan kepada selain Allah.

Jika dua hal ini telah terealisasi maka harta dan jiwanya terlindungi karena ia telah menjadi seorang muslim dan seorang muslim harta dan jiwanya terlindungi[4].


Berdasarkan hadits yang agung ini Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah mengatakan,

“Jika ada orang yang mengucapkan kalimat (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) dan menilai/berpendapat bahwa orang nashrani dan yahudi pada zaman ini berada dalam agama yang benar[5] maka ia bukanlah seorang muslim. Demikian juga barang siapa yang menilai/berpendapat bahwa agama-agama yang ada hanyalah berupa pola pikir (أَفْكَار) yang mana setiap orang bebas memilih agama mana yang ia kehendaki[6] maka ia bukanlah seorang muslim”[7].
selengkapnya di
http://alhijroh.net/aqidah/bukan-sekedar-ucapan/

Tidak ada komentar: