Motto Santri :

Utlubul Ilma Minal Mahdi Ilallahdi

Jumat, 20 Agustus 2010

Kisah Nyata Seorang Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di Amerika

Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan bangku kuliahnya di
Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah
berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya.

Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di
Amerika , ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka
semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk
Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di
Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung
tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja.
Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya
pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan
duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana
kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk
memberikan penghor-matan lantas kembali duduk.

Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika meli-hat kepada para hadirin
dan berkata, "Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap
ia keluar dari sini." Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya.
Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap
tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, "Aku
minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya." Barulah pemuda
ini beranjak keluar.

Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pen-deta, "Bagaimana anda tahu
bahwa saya seorang mus-lim." Pendeta itu menjawab, "Dari tanda yang
terdapat di wajahmu." Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang
pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan
beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan
sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan
debat tersebut.

Sang pendeta berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan
anda harus menja-wabnya dengan tepat." Si pemuda tersenyum dan berkata,
"Silahkan!"

Sang pendeta pun mulai bertanya,
1. Sebutkan satu yang tiada duanya,
2. dua yang tiada tiganya,
3. tiga yang tiada empatnya,
4. empat yang tiada limanya,
5. lima yang tiada enamnya,
6. enam yang tiada tujuhnya,
7. tujuh yang tiada delapannya,
8. delapan yang tiada sembilannya,
9. sembilan yang tiada sepuluhnya,
10. sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,
11. sebelas yang tiada dua belasnya,
12.. dua belas yang tiada tiga belasnya,
13. tiga belas yang tiada em-pat belasnya.
14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!
15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?
16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?
18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!
19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?
20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yg diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?
21. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
22. Pohon apakah yang mempu-nyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun,
setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?"

Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah.

Setelah membaca basmalah ia berkata,

1. Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman,
"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)." (Al-Isra': 12).
3. Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan,
membunuh seorang anak kecil dan ketika me-negakkan kembali dinding yang hampir roboh.
4. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.
5. Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.
6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ke-tika Allah SWT menciptakan makhluk.
7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis.
Allah SWT berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.
Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).
8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman.
Allah SWT berfirman,"Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit.
Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Rabbmu di atas(kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).
9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa : tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan,
musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang dan *
10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan.
Allah SWT berfirman, "Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).
11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudaraYusuf ....
12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah,
"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman,
'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).
13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.
14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruhadalah waktu Shubuh.
Allah SWT ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menying-sing." (At-Takwir: 18).
15. Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
16. Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf ,
yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya,
"Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami
tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan
serigala." Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka,"
tak ada cercaaan ter-hadap kalian." Dan ayah mereka Ya'qub berkata,
"Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya
Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara kele-dai." (Luqman: 19).
18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.
19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim.
Allah SWT berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (Al-Anbiya': 69).
20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah
dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).
21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalahtipu daya wanita,
sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).
22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun,
setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari
maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan
buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.

Pendeta dan para hadirin merasa takjub mende-ngar jawaban pemuda
muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun
ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab
satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta.
Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?"

Mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya
diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah.. Ia berusaha
menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil.

Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab
pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.

Mereka berkata,
"Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab,
sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu
menjawabnya!"

Pendeta tersebut berkata,
"Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun
aku takut kalian marah.

" Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda."

Sang pendeta pun berkata,
"Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasulullah."

Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam.
Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka
dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.**

* Penulis tidak menyebutkan yang kesembilan (pent.)
** Kisah nyata ini diambil dari Mausu'ah al-Qishash al-Waqi'ah melalui
internet,
Kaum yang berpikir (termasuk para pendeta) sedianya telah mengetahui
bahwa Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan akan menjaga manusia dalam kesejahteraan baik di dunia dan di akherat..
Apa yang menyebabkan hati-hati para pendeta itu masih tertutup bahkan
cenderung mereka sendiri yang menutup rapat jiwanya..
Semoga Allah SWT memberikan Hidayah kepada mereka yang mau berpikir..
Amien..

Minggu, 15 Agustus 2010

MARHABAN YA RAMADHAN

Syarat Laa Ilaha Illallahu dan Dalilnya (1)

Syarat Laa Ilaha Illallahu dan Dalilnya (1)
Manusia Allah Subhanahu wa Ta'ala ciptakan di muka bumi ini dengan tujuan untuk menegakkan kalimat Allah yaitu Laa Illaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ), yang realisasi dari kalimat ini adalah tauhid kepada Allah 'azza wa jalla. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk mentauhidkanKu ". (QS : Adz Dzariyat [51] :56).
Demikian juga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus pada Nabi dan para Rosul adalah untuk mengajarkan kepada manusia kepada pentauhidan kepada Allah, hal ini sebagaimana firman Allah 'azza wa jalla,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Tidaklah kami mengutus seorang Rosul/utusan sebelummu kecuali kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku (Allah) maka bertauhidlah pada Ku (Allah) ”. (QS : Al Anbiya’ [21] : 25).
Cukuplah dua ayat di atas untuk menjelaskan kepada kita betapa mulia dan agungnya mentauhidkan Allah 'azza wa jalla. Namun sayang, tidak sedikit diantara orang di sekililing kita yang mengucapkan kalimat ini akan tetapi tidak paham makna dan konsekwensi dari kalimat ini. Untuk itulah kami akan uraikan secara ringkas tentang syarat kalimat tauhid dan dalil-dalilnya dari kitab para ulama’ namun secara ringkas.
Pengertian Syarat
Syarat dalam istilah fiqih berarti sesuatu yang tidak akan sempurna (sah pent.) suatu yang disyaratkan kecuali dengannya . Agar lebih memudahkan pemahaman kita ambil contoh ibadah sholat, ibadah ini tidaklah akan dinilai sebagai sholat yang sah apabila syaratnya tidak terpenuhi yaitu wudhu. Sehingga apabila seseorang melakukan ibadah sholat tanpa berwudhu maka sholatnya tidaklah sah bahkan ia berdosa apabila nekat sholat tanpa wudhu dalam keadaan ia tahu bahwa wudhu merupakan syarat sah sholat .
Sebelum kita masuk kepada pembahasan selanjutnya, perlu kami sampaikan bahwasanya syarat-syarat yang akan kami sebutkan berikut ini yang terpenting adalah pengamalannya, sehingga mungkin saja ada seseorang yang tidak hafal syarat-syarat ini namun ia telah mengamalkan seluruhnya maka sudah cukup baginya, Allahu a’lam.
Kemudian jika hal di atas kita pahami, mungkin diantara kita ada yang bertanya dari mana penetapan syarat Laa Illaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) ini ? Maka jawabnya adalah hal ini ditetapkan dari Al Qur'an dan As Sunnah dengan metode istiqro’ dan tatabbu’ (penulusuran). Hal ini bukanlah merupakan bid’ah sebagaimana para ulama’ ijma’ bahwa pada ibadah sholat ada syarat dan rukunnya . Dan kami tambahkan karena maksud dari penetapan 7 syarat ini adalah untuk memudahkan bagi kaum muslimin untuk memahaminya sehingga sebagaimana kami singgung di atas, yang terpenting dalam hal ini adalah pengamalan terhadap seluruh syaratnya dan bukanlah pembagiannya. Allahu a’lam.
Syarat Pertama, Al Ilmu (Mengetahui Maknanya)
Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu yang menghilangkan kebodohan, dan secara istilah ilmu adalah mengetahui sesuatu secara pasti sebagaimana keadaan yang sebenarnya (sesuai dengan dalilnya) .
Kemudian, makna Laa Illaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) adalah Laa Ma’buda bi Haqqin Illallahu (لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ) yang berarti tidak ada sesembahan (seluruhnya) yang berhak diibadahi kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala. Inilah tafsir yang benar dari kalimat tauhid, tidak sebagaimana anggapan sebagian orang, atau anggapan yang telah ditanamkan kepada kita sejak kecil yaitu tidak ada Pencipta dan Pemberi Rizki kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau tidak ada Dzat yang menghidupkan dan mematikan kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka ketahuilah makna ini adalah makna yang sangat jauh dari makna yang dikehendaki oleh Allah 'azza wa jalla dan RosulNya shallallahu ‘alaihi was sallam, lihatlah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini,
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah (kepada mereka yang berbuat kemusyirikan kepada Allah) siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan dan menguasai) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah." Maka katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”. (QS : Yunus [10] : 31).
Berdasarkan ayat di atas dan ayat-ayat yang lainnya kita dapat mengetahui bathilnya penafsiran kalimat Laa Illaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) dengan tafsiran tidak ada Pencipta dan Pemberi Rizki kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau tidak ada Dzat yang menghidupkan dan mematikan kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Demikian juga betapa Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam telah memberitahukan kepada kita melalui hadits-haditsnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh al Imam Muslim dalam kitab Shohihnya,
مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ
“Barangsiapa yang mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah dan kufur/mengingkari terhadap seluruh ibadah kepada selain Allah (maka) darahnya dan hartanya haram (terlindungi) sedangkan hisabnya (perhitungan amalmya) di sisi Allah” .

Pada hadits yang mulia ini Nabi shollallahu 'alaihi was sallam jelas mengaitkan adanya keterlindungan jiwa dan harta dengan 2 hal yaitu,
[1.] Dengan mengucapkan kalimat (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ)
[2.] Dengan mengingkari (baik dengan secara lahir dan bathin pent.) seluruh bentuk peribadatan kepada selain Allah.
Jika dua hal ini telah terealisasi maka harta dan jiwanya terlindungi karena ia telah menjadi seorang muslim dan seorang muslim harta dan jiwanya terlindungi .
Berdasarkan tafsir di atas jelaslah bagi kita bahwa inti yang dimaksudkan dari kalimat Laa Illaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) yang dimaksudkan adalah mentauhidkan Allah dalam masalah peribadatan atau yang disebut para ulama dengan tauhid uluhiyah atau tauhid ath tholab wal qoshdu .
selengkapnya http://alhijroh.net/aqidah/syarat-laa-illaha-illallahu-dan-dalilnya-1/

Jumat, 06 Agustus 2010

Sebagain Hikmah dari Dua Nama Allah….

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sebagain Hikmah dari Dua Nama Allah….
Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.
Al Qur'an merupakan sebuah mu’jizat yang teragung yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dan akan senantiasa terjaga. Maka sebagai ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam sudah sepantasnya dan sudah selayaknyalah kita mengkaji dan mempelajarinya.
Diantara ayat mulia yang Allah Subhanahu wa Ta'ala abadikan dalam kitabNya,
تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ
“(Al Qur’an merupakan wahyu yang) diturunan oleh Al Aziz dan Ar Rohim”. (QS : Yaasiin [36] : 5).
Berikut kami kutipkan tafsiran ayat ini dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah secara ringkas dan sedikit perubahan redaksi,
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (تَنْزِيلَ) secara bahasa merupakan susunan khobar dari mubtada’ yang dihapus dan ditakdirkan/ditetapkan mubatada’ yang dihapus tersebut adalah Al Qur'an, sehingga ditafsirkan sebagai, (القُرْآن تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيم) “Al Qur’an merupakan wahyu yang diturunan oleh Al Aziz dan Ar Rohim”.
Al Qur'an, Allah turunkan secara perlahan-lahan, sebagian demi sebagian, hal ini sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla,
وَقُرْآَنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا
“Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian ”. (QS : Al Isro’ [17] : 106).
Firman Allah Subahanahu wa Ta'ala tentang penuruan Al Qur'an memiliki dua cara penyampaian,
[1.] Allah 'Azza wa Jalla terkadang mengabarkan kepada kita bahwa Al Qur'an, Allah Subahanahu wa Ta'ala turunkan dengan menggunakan kata (أَنْزَلَ) yang mengandung makna diturunkan sekaligus, maka hal ini jika yang ditinjau adalah bagian akhirnya sehingga jika ditinjau dari sisi ini maka Allah 'Azza wa Jalla telah menurunkan Al Qur'an secara keseluruhan. Atau jika ditinjau dengan tinjauan telah Allah turunkan dari lauhil mahfudz ke langit dunia . Hal ini sebagaimana firman Allah Subahanahu wa Ta'ala,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur’an pada malam Lailatul Qodr”. (QS : Al Qodr [97] : 1).

[2.] Allah 'Azza wa Jalla terkadang mengabarkan kepada kita bahwa Al Qur'an Allah Subahanahu wa Ta'ala turunkan dengan menggunakan kata (نَزَّلَ) yang mengandung makna diturunkan sebagian demi sebagian atau perlahan-lahan. Sebagaimana dalam firman Allah dalam surat Al Isro’ ayat 106 di atas dan firman Allah dalam surat Qof ayat 9 dan Ar Ro’du ayat 17.
Kemudian firman Allah (الْعَزِيزِ), nama Allah Subahanahu wa Ta'ala Al Aziz memiliki 3 makna,
[1.] Allah adalah Dzat yang Aziz dalam kedudukannya, {sehingga terkadang diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Dzat Yang Maha Mulia Kedudukannya} .
[2.] Allah adalah Dzat yang Aziz dalam Kekuasaannya, {sehingga terkadang diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Dzat Yang Maha Perkasa} .
[3.] Allah adalah Dzat yang Aziz dalam Keinginannya, {artinya jika keinginan Allah dan keinginan mahluk bertabrakan maka keinginan Allah lah yang akan terjadi} .
selengkapnya silakan lihat di
http://alhijroh.net/tafsir/sebagain-hikmah-dari-dua-nama-allah/

Senin, 02 Agustus 2010

Bukan Sekedar Ucapan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bukan Sekedar Ucapan



Sesungguhnya sholat kita, sembelihan kita, hidup kita dan mati kita hanyalah untuk Allah ‘azza wa jalla dan tidak untuk selainnya. Demikianlah yang seharusnya senantiasa terpatri dalam hidup dan kehidupan setiap muslim.


Hal ini merupakan realisasi dan perwujudan nyata dari sebuah kalimat yang agung yaitu ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) Tiada Sesembahan yang Benar Disembah Melainkan Hanya Allah ‘Azza wa Jalla Semata.


Namun sayang sungguh sangat disayangkan demikian banyak orang yang mengucapkan kalimat ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) namun tidak mengerti konsekwensinya yang ia adalah rukun dan syarat[1] diterimanya kalimat tersebut.


Penjelasan tentang hal ini tidaklah luput dari perhatian Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi was sallam bahkan ia adalah misi terbesar diutusnya para Nabi dan Rosul yaitu untuk menegakkan kalimat (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) dan merealisasikannya. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas melalui hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim rohimahullah dalam kitab Shohihnya,


مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Barangsiapa yang mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah dan kufur/mengingkari terhadap seluruh ibadah kepada selain Allah (maka) darahnya dan hartanya haram (terlindungi) sedangkan hisabnya (perhitungan amalmya) di sisi Allah”[2].


Hadits yang mulia ini adalah seagung-agung dan sejelas-jelasnya dalil yang menjelaskan bahwa sekedar mengucapkan kalimat (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) tidaklah memasukkan seseorang ke dalam islam. Melainkan harus ada padanya 2 unsur yang merupakan hakikat dari tafsir tauhid yaitu penetapan seluruh tauhid uluhiyah hanya kepada Allah semata dan peniadaaan seluruh tauhid uluhiyah terhadap selain Allah[3].


Pada hadits yang mulia ini Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam jelas mengaitkan adanya keterlindungan jiwa dan harta dengan 2 hal yaitu,

[1.] Dengan mengucapkan kalimat (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ)

[2.] Dengan mengingkari (baik dengan secara lahir dan bathin pent.) seluruh bentuk peribadatan kepada selain Allah.

Jika dua hal ini telah terealisasi maka harta dan jiwanya terlindungi karena ia telah menjadi seorang muslim dan seorang muslim harta dan jiwanya terlindungi[4].


Berdasarkan hadits yang agung ini Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah mengatakan,

“Jika ada orang yang mengucapkan kalimat (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) dan menilai/berpendapat bahwa orang nashrani dan yahudi pada zaman ini berada dalam agama yang benar[5] maka ia bukanlah seorang muslim. Demikian juga barang siapa yang menilai/berpendapat bahwa agama-agama yang ada hanyalah berupa pola pikir (أَفْكَار) yang mana setiap orang bebas memilih agama mana yang ia kehendaki[6] maka ia bukanlah seorang muslim”[7].
selengkapnya di
http://alhijroh.net/aqidah/bukan-sekedar-ucapan/

Mungkinkah Umat Islam Bersatu?

Pembaca mulia, barangkali pembaca sekalian akan merasakan apa yang penulis rasakan, yaitu sedih melihat kaum muslimin sekarang ini terpecah-belah dalam berbagai kelompok dan golongan. Ada yang menempuh jalur politik, yang dari situ, terpecahlah menjadi berbagai partai belabel Islam dengan ciri khasnya masing-masing. Di sisi lain, ada yang menempuh jalur pemikiran liberal. Ada yang menempuh jalur kulturalisasi dengan tradisi leluhur secara mentah-mentah. Ada yang menempuh jalur penegakan khilafah Islamiyyah. Ada pula yang melalui jalur terorisme dan pengebomam, sebagaimana yang baru marak akhir-akhir ini. Barangkali, di antara pembaca ada yang bertanya, “Mana di antara kelompok-kelompok Islam itu yang benar? Mengapa mereka berjalan dengan cara-caranya sendiri. Mengapa langkah mereka tidak sama, padahal mereka sama-sama Islam? Mengapa sesama Islam tidak bersatu? Mungkinkah umat Islam akan bersatu?”

Sebagai bahan perenungan dari pertanyaan-pertanyaan di atas, perhatikanlah terlebih dahulu firman Allah ta’ala berikut ini.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah. Ingatlah nikmat yang Allah curahkan kepada kalian ketika kalian dulu bermusuhan, lalu Allah lembutkan hati-hati kalian. Kemudian, dengan nikmatNya kalian menjadi bersaudara. (Ingatlah pula) dulu kalian di tepi jurang neraka, lalu Allah selamatkan kalian. Demikianlah, Allah jelaskan ayat-ayatNya kepada kalian, mudah-mudahan kalian mendapat petunjuk.”
(Q.S. Ali Imron: 103)


Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)
Ayat ini turun berkenaan dengan kasus yang terjadi antara suku Aus dan Khazraj . Kedua suku ini semasa jahiliyyah sering berperang dan saling bermusuhan dengan permusuhan yang keras. Permusuhan ini telah berlangsung selama 120 tahun . Kemudian, setelah Islam yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada mereka, mereka bersatu. Mereka menjadi saudara karena Islamlah yang mempersatukan mereka, bukan persatuan di atas fanatisme suku. Melihat kaum muslimin bersatu dan merasa menjadi saudara satu sama lain, kaum yahudi merasa benci dan sesak hati. Mereka berusaha merusak persaudaraan ini dan mencerai beraikan kaum muslimin, dengan menumbuhkan dan mengungkit-ungkit permusuhan yang pernah terjadi di antara mereka di masa jahiliyyah.

Ibnu Katsir, dalam kitab tafsir beliau , menyebutkan riwayat bahwa Muhammad bin Yasar dan ulama lainnya menyebutkan bahwa,
“Ayat ini turun berkaitan dengan keadaan suku Aus dan Khazraj. Ketika itu, ada seorang laki-laki yahudi berjalan melewati sekumpulan orang dari suku Auz dan Khazraj. Laki-laki yahudi tersebut merasa tidak senang dengan keeraatan dan kekompakan mereka. Kemudian, ia mengirimkan seseorang dan memerintahkannya untuk duduk bersama mereka, serta mengingatkan kembali berbagai peperangan yang pernah terjadi di antara mereka pada peristiwa Bu’ats dan peperangan-peperangan lainnya. Orang itu tidak henti-hentinya melakukan hal tersebut sehingga emosi mereka bangkit dan sebagian mereka murka atas sebagian lainnya. Masing-masing mengobarkan emosinya, meneriakkan slogan-slogan, mengangkat senjata mereka dan saling mengancam untuk ke tanah lapang. Ketika hal itu terdengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau datang dan menenangkan mereka seraya berseru
“Apakah kalian menanti seruan jahiliyyah padahal aku masih berada di tengah-tengah kalian”?
Beliau pun membacakan ayat di atas, maka mereka pun menyesali apa yang mereka lakukan. Dan akhirnya, mereka saling bersalaman, berpelukan, dan meletakkan senjata. Mudah-mudahan Allah meridhoi mereka semuanya.

artikel terlalu panjang,
Lihat selengkapnya di http://al-ashree.com/telaah/islam-bersatu/

3 Faidah Agung Menjaga Pandangan

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala Semoga sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Nabi akhir zaman Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Salah satu ajaran mulia dalam islam adalah menundukkan pandangan bahkan ia diperintahkan Allah 'azza wa jalla kepada orang-orang yang beriman dari hamba-hambanya, dan ini menunjukkan mulianya apa yang diperintahkan, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman , "Hendaklah mereka menundukkan pandanganya, dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.
(QS : An Nuur [24] : 30).

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala mendahulukan penyebutan menundukkan pandangan dari pada menjaga kemaluan, maka hal ini menunjukkan pentingnya menundukkan pandangan sebagai sarana untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang dapat merasuk ke dalamnya, setelah itu barulah hati itu dapat tumbuh dan berkembang dengan diberi makanan hati yang berupa amal keta’atan sebagaimana badan yang juga butuh makanan agar dapat tumbuh dan berkembang.
Maka pada kesempatan ini kami nukilkan 3 faidah yang sangat agung dari suatu ibadah yang agung, yaitu menundukkan pandangan dari apa yang dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim rohimahullah secara ringkas ,
[1.] Faidah Pertama, dapat merasakan manisnya iman, dimana ia merupakan suatu hal yang lebih baik, lebih lezat dari apa yang ia palingkan matanya dari melihatnya dan yang ia tinggalkan karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka barangsiapa yang meninggalkan sesuatu apapun karena Allah maka Allah 'azza wa jalla akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang dia tinggalkan tersebut. Sebagaimana dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
“Sesungguhnya tidaklah sesuatu yang kalian tinggalkan karena Allah 'azza wa jalla kecuali pasti akan Allah gantikan untukmu dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang dia tinggalkan” .
Ibnul Qoyyim rohimahullah menyebutkan bahwa,
“Pandangan itu merupakan utusan hati, hatilah yang mengutus pandangan untuk melihat apa yang bisa dikabarkannya dari keindahan apa yang terlihat. Kemudian dari apa yang dilihat inilah muncul rasa rindu, yang kemudian berubah menjadi rasa cinta yang selanjutnya rasa cinta ini dapat berubah menjadi rasa cinta yang bersifat penghambaan, sehingga hatinya menjadi hamba apa yang dia cintai yang semula hanya berawal dari apa yang dia lihat. Sehingga akhirnya mengakibatkan letihnya hati dan hatinya akan menjadi tawanan apa yang ia lihat. Kemudian sang hati yang telah letih ini mengeluhkan keletihannya pada pandagan, namun apa yang dikatakan pandangan tidaklah seperti yang dia harapkan. Dia mengatakan, “Aku hanyalah sebagai utusanmu dan engkaulah yang mengutusku” .
Maka semakin bertambahlah sakit yang dirasakan hati dan beginilah salah satu ujian bagi hati yang kosong dari kecintaan kepada Allah dan ikhlas kepadaNya, sehingga dengan ini terlihatlah bagi kita dampak buruk dari tidak menjaga pandangan .
Kemudian Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,
“Sesungguhnya hati itu pasti bergantung apa yang dicintainya, maka barangsiapa yang tidak menjadikan Allah lah satu-satunya yang dia cintai dan ilaah yang dia sembah sudah barang tentu hatinya akan menyembah/beribadah kepada selainNya” .
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Yusuf ‘alaihis salam,
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
“Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran (khianat ) dan kekejian (keinginan untuk berzina ). Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas dalam kerta’atannya ”.
(QS : Yusuf [12] : 24).

Maka lihatlah saudaraku betapa Allah 'azza wa jalla kaitkan antara menjadi hamba yang ikhlas dalam keta’atannya kepada Allah, dimana salah satu jalannya adalah dengan memalingkan pandangan dari sesuatu yang haram dilihat dan ini adalah salah satu sebab Nabi Yusuf alaihis salam bisa berpaling dari perzinaan dan pengkhianatan padahal saat itu Beliau adalah seorang yang masih muda, belum menikah, terasing dan seorang budak dari majikan suami orang yang mengajaknya berzina.
[2.] Faidah Kedua, membuat hati menjadi bercahaya dan melahirkan firasat yang benar.
Ibnu Syujaa’ Al Karmani rohimahullah mengatakan,
“Barangsiapa yang menjaga dhohirnya dengan mengikuti sunnah dan batinnya dengan perasaan selalu diawasi Allah 'azza wa jalla (muroqobah), menahan diri dari mengikuti syahwat, menundukkan pandangan dari melihat hal-hal yang haram dan menjaga diri untuk tidak makan yang haram maka firasatnya tidak akan meleset”.
selengkapnya silakan lihat di
http://alhijroh.net/fiqih-tazkiyatun-nafs/3-faidah-agung-menjaga-pandangan/

Dia adalah Sebuah Hal yang Pasti Terjaga…!!

‫بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dia adalah Sebuah Hal yang Pasti Terjaga…!!

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Pada kesempatan kali ini kami ingin sedikit mengingatkan kita tentang suatu perkara yang amat penting yang merupakan sebuah pondasi dasar dalam islam yaitu keterjagaan sunnah/hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam.

Hal ini kami anggap penting untuk dikemukakan karena sebagian orang punya pemahaman bahwa kita tidak butuh sunnah/hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam cukup dengan Al Qur’an saja. Atau ada perkataan lain semisal sunnah/hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam sudah banyak yang dipalsukan jadi tidak bisa dijadikan pegangan lagi sekarang..!??! Atau perkataan yang amat sangat buruk sekali yang semisal ini.

Untuk itulah kami memandang perlu menukilkan penjelasan ringkas dalam masalah ini dari para ulama ahlus sunnah. Ayat atau dalil yang kami bawakan di sini mungkin sudah pernah kita baca namun belum kita tadabburi dengan baik.

Ayat tersebut adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang amat agung,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Adz Dzikr, agar kamu memberikan bayan pada seluruh umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (QS : An Nahl [16] : 44).

Para ulama mufassirin sepakat/ijma’ yang dimaksud dengan Adz Dzikr (الذِّكْرَ) dalam ayat ini adalah Al Qur’an Al Karim. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Jauziy rohimahullah dalam kitab tafsirnya Zaadul Masiir[1]. Dengan demikian Al Qur’an yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam untuk memberikan bayan kepada seluruh manusia. Lantas apa hubungan ayat ini dan topik tulisan ini ?! mungkin ada diantara kita yang bertanya demikian. Maka kami katakan hubungannya adalah hubungan yang sangat erat dengan penjelasan sebagai berikut.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albaniy rohimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan bayan dalam ayat ini mencakup dua hal yaitu[2],

[1.] Penjelasan/bayan tentang lafadz dan susunan kata dalam Al Qur’an, maka hal ini merupakan bentuk tabligh/penyampaian beliau shallallahu ‘alaihi was sallam terhadap Al Qur’an dan bentuk penyangkalan terhadap adanya ayat Al Qur’an yang disembunyikan serta bentuk penunaian tugas beliau shallallahu ‘alaihi was sallam kepada ummatnya sebagaimana yang Allah perintahkan dalam firmanNya,

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ

“Wahai Rosul, sampaikanlah apa yang diturunkan dari Robbmu kepadamu”. (QS : Al Maidah [5] : 67).

[2.] Penjelasan/bayan makna lafadz/kata, kalimat atau ayat yang ummat membutuhkan penjelasan tentangnya. Hal ini banyak terjadi dalam ayat-ayat yang masih mujmal[3]/global, umum dan mutlaq maknanya maka sunnah/hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam lah yang menjelaskan keglobalan, keumuman dan memuqoyad[4]kan yang masih mutlaq[5]. Hal ini dapat saja terjadi melalui perkataan/sabda beliau shallallahu ‘alaihi was sallam, namun juga dapat terjadi pada perbuatan yang beliau lakukan dan persetujuan beliau terhadap suatu perkara. Demikianlah pentingnya sunnah/hadits bagi Al Qur’an.

Sekian kutipan perkataan beliau rohimahullah dengan sedikit diringkas.

Adalah sebuah hal yang amat jelas bahwa Allah ‘azza wa jalla menjamin keterjagaan Al Qur’an dalam firmanNya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Adz Dzikr dan Kami pulalah yang menjaganya”. (QS : Al Hijr [15] : 9).

Sebagaimana ayat dalam surat An Nahl ayat 44 di atas maka yang dimaksud dengan Adz Dzikr (الذِّكْرَ) dalam ayat ini juga Al Qur’an denga sepakat/ijma’ para ahli tafsir[6]. Dengan demikian jelaslah bahwa

jika Allah ‘azza wa jalla menjamin keterjagaan Al Qur’an maka pastilah Allah menjaga keterjagaan apa yang menjelaskan Al Qur’an yaitu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam baik itu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam yang berupa perkataan/sabda, perbuatan dan persetujuan beliau shallallahu ‘alaihi was sallam terhadap suatu urusan.

Allahu a’lam.

Ba’da Isya’, 7 Sya’ban 1431 H/ 19 Juli 2010 M,

Yang selalu lemah di hadapan Robbnya,

Aditya Budiman bin Usman As Sijambaliy

[1] Lihat Zaadul Masiir oleh Ibnul Jauziy rohimahullah (wafat 597 H/1201 M) hal. 96/IV, Asy Syamilah.

[2] Penjelasan ini kami ringkas dari kitab Manzilatus Sunnah fil Islam oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albaniy rohimahullah hal. 4-5, Asy Syamilah.

[3] Mujmal menurut istilah dalam ilmu ushul fiqh adalah perkara yang masih mengandung dua makna atau lebih dan tidak dapat dikuatkan salah satu dari dua kemungkinan makna atau lebih. [lihat Ma’alim Ushul fiqh ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh Syaikh Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jaizaniy hal 388, cetakan ke-7, terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh. Kitab ini merupakan Disertasi Beliaudi Universitas Islam Madinah].

[4] Muqoyyad adalah sebuah lafadz untuk makna hal tertentu-misal Muhammad- atau tidak tertentu namun ada shifat tambahan tertentu untuk menunjukkan hakikatnya ketercakupan jenisnya. [lihat Ma’alim Ushul fiqh ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh Syaikh Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jaizaniy hal 388]. Contohnya kalimat, “Berikan hadiah kepada Muhammad”, “Bebaskan seorang budak yang beriman”.

[5] Mutlaq adalah sebuah lafadz/kata dari suatu makna namun belum dapat ditentukan dengan meninjau ketercakupannya dalam suatu cakupan makna tertentu. [lihat Ma’alim Ushul fiqh ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh Syaikh Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jaizaniy hal 388] contohnya kalimat “Berikan 1 hadiah kepada seorang murid”, “Bebaskan seorang budak”.

[6] Lihat Zaadul Masiir oleh Ibnul Jauziy rohimahullah (wafat 597 H/1201 M) hal. 51/IV.

sumber ‬http://alhijroh.co.cc/aqidah/dia-adalah-sebuah-hal-yang-pasti-terjaga/