Motto Santri :

Utlubul Ilma Minal Mahdi Ilallahdi
Tampilkan postingan dengan label Fiqih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqih. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 April 2011

Sholatku…….Mengapa Sering Masbuq

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Para Pembaca –yang semoga senantiasa mendapat rahmat Allah dimanapun berada-, ilmu agama merupakan suatu hal yang harus dicari seorang hamba yang ingin beribadah dengan benar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian telah ditempuh para ulama kita mulai dari Zaman sahabat hingga di zaman kita sekarang. Lihatlah betapa gigih dan yakinnya seorang sahabat yang mulia dalam mencari kebenaran dalam beragama,…lihatlah kisah-kisah beliau Salman Al Farisi rodhiyallahu ‘anhu dalam mencari agama yang Allah inginkan. Lihatlah juga di zaman kita betapa gigih Syaikh Al Albani dalam menggali ilmu hadits dan berdakwah….

Namun hal yang sangat disayangkan diantara kita yang mengaku, menisbatkan diri kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah sering kali kita dapati betapa ilmu yang telah kita dapatkan ternyata realisasinya kurang…realisasinya masih jauh dari apa yang telah kita ketahui…Lalu apakah kita belajar agama untuk menambah wawasan semata….!!!!?? Atau apakah ketika pakaian kita telah mengikuti sunnah namun ibadah dan ghiroh kita akan ibadah boleh kendor ???!!!! Apakah ketika kita telah mengerti tauhid lantas meremehkan ibadah yang hukumnya mustahab…??!!! Bukanlah yang pada dasarnya amal mustahab menuntut amal untuk dikerjakan ???!!!!

Wahai diriku, wahai jiwaku, wahai jiwa saudara- saudaraku yang mengaku bermanhaj salaf, mana amal dari ilmu kita ???!!!! Apakah ilmu kita tuntut untuk merendahkan kaum muslimin yang masih jahil terhadap agamanya ??!!! Lihatlah wahai saudaraku betapa banyak kalangan salaf yang mengatakan,

العِلْمُ خَادِمُ الْعَمَلِ وَالْعَمَلُ غَيَةُ الْعِلْمِ, فَلَوْ لَا الْعَمَلُ لَمْ يُطْلَبُ عِلْمٌ, فَلَوْ لَا الْعِلْمُ لَمْ يُطْلَبُ عَمَلٌ

“Ilmu adalah pelayannya amal dan amal adalah tujuan utama ilmu. Maka kalaulah bukan karena amal maka tidaklah dicari ilmu dan kalaulah bukan karena ilmu tidaklah dituntut amal”[1].
Lihatlah perkataan Abbas bin Ahmad ketika menafsirkan firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh menuju kami, maka akan kami berikan kepada mereka hidayah menuju kami”. [QS. Al Ankabut (29) : 69]

قَالَ : الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ بِمَا يَعْلَمُوْنَ نَهْدِيْهِمْ إِلَى مَا لَا يَعْلَمُوْنَ

Beliau mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang mengamalkan apa yang mereka ketahui maka Kami (Allah) akan berikan kepada mereka petunjuk terhadap hal-hal yang belum mereka ketahui”[2].

Nah diantara apa yang kita amati sering terjadi adalah sebagian dikalangan saudara kita yang mengaku bermanhaj salaf sering masbuq dalam sholat dan inilah yang akan menjadi topik bahasan kita yang selanjutnya diharapkan berbuah amal.
lihat selengkapnya di http://alhijroh.net/fiqih-tazkiyatun-nafs/sholatku-mengapa-sering-masbuq/

Senin, 02 Agustus 2010

3 Faidah Agung Menjaga Pandangan

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala Semoga sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Nabi akhir zaman Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Salah satu ajaran mulia dalam islam adalah menundukkan pandangan bahkan ia diperintahkan Allah 'azza wa jalla kepada orang-orang yang beriman dari hamba-hambanya, dan ini menunjukkan mulianya apa yang diperintahkan, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman , "Hendaklah mereka menundukkan pandanganya, dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.
(QS : An Nuur [24] : 30).

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala mendahulukan penyebutan menundukkan pandangan dari pada menjaga kemaluan, maka hal ini menunjukkan pentingnya menundukkan pandangan sebagai sarana untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang dapat merasuk ke dalamnya, setelah itu barulah hati itu dapat tumbuh dan berkembang dengan diberi makanan hati yang berupa amal keta’atan sebagaimana badan yang juga butuh makanan agar dapat tumbuh dan berkembang.
Maka pada kesempatan ini kami nukilkan 3 faidah yang sangat agung dari suatu ibadah yang agung, yaitu menundukkan pandangan dari apa yang dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim rohimahullah secara ringkas ,
[1.] Faidah Pertama, dapat merasakan manisnya iman, dimana ia merupakan suatu hal yang lebih baik, lebih lezat dari apa yang ia palingkan matanya dari melihatnya dan yang ia tinggalkan karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka barangsiapa yang meninggalkan sesuatu apapun karena Allah maka Allah 'azza wa jalla akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang dia tinggalkan tersebut. Sebagaimana dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
“Sesungguhnya tidaklah sesuatu yang kalian tinggalkan karena Allah 'azza wa jalla kecuali pasti akan Allah gantikan untukmu dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang dia tinggalkan” .
Ibnul Qoyyim rohimahullah menyebutkan bahwa,
“Pandangan itu merupakan utusan hati, hatilah yang mengutus pandangan untuk melihat apa yang bisa dikabarkannya dari keindahan apa yang terlihat. Kemudian dari apa yang dilihat inilah muncul rasa rindu, yang kemudian berubah menjadi rasa cinta yang selanjutnya rasa cinta ini dapat berubah menjadi rasa cinta yang bersifat penghambaan, sehingga hatinya menjadi hamba apa yang dia cintai yang semula hanya berawal dari apa yang dia lihat. Sehingga akhirnya mengakibatkan letihnya hati dan hatinya akan menjadi tawanan apa yang ia lihat. Kemudian sang hati yang telah letih ini mengeluhkan keletihannya pada pandagan, namun apa yang dikatakan pandangan tidaklah seperti yang dia harapkan. Dia mengatakan, “Aku hanyalah sebagai utusanmu dan engkaulah yang mengutusku” .
Maka semakin bertambahlah sakit yang dirasakan hati dan beginilah salah satu ujian bagi hati yang kosong dari kecintaan kepada Allah dan ikhlas kepadaNya, sehingga dengan ini terlihatlah bagi kita dampak buruk dari tidak menjaga pandangan .
Kemudian Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,
“Sesungguhnya hati itu pasti bergantung apa yang dicintainya, maka barangsiapa yang tidak menjadikan Allah lah satu-satunya yang dia cintai dan ilaah yang dia sembah sudah barang tentu hatinya akan menyembah/beribadah kepada selainNya” .
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang Yusuf ‘alaihis salam,
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
“Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran (khianat ) dan kekejian (keinginan untuk berzina ). Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas dalam kerta’atannya ”.
(QS : Yusuf [12] : 24).

Maka lihatlah saudaraku betapa Allah 'azza wa jalla kaitkan antara menjadi hamba yang ikhlas dalam keta’atannya kepada Allah, dimana salah satu jalannya adalah dengan memalingkan pandangan dari sesuatu yang haram dilihat dan ini adalah salah satu sebab Nabi Yusuf alaihis salam bisa berpaling dari perzinaan dan pengkhianatan padahal saat itu Beliau adalah seorang yang masih muda, belum menikah, terasing dan seorang budak dari majikan suami orang yang mengajaknya berzina.
[2.] Faidah Kedua, membuat hati menjadi bercahaya dan melahirkan firasat yang benar.
Ibnu Syujaa’ Al Karmani rohimahullah mengatakan,
“Barangsiapa yang menjaga dhohirnya dengan mengikuti sunnah dan batinnya dengan perasaan selalu diawasi Allah 'azza wa jalla (muroqobah), menahan diri dari mengikuti syahwat, menundukkan pandangan dari melihat hal-hal yang haram dan menjaga diri untuk tidak makan yang haram maka firasatnya tidak akan meleset”.
selengkapnya silakan lihat di
http://alhijroh.net/fiqih-tazkiyatun-nafs/3-faidah-agung-menjaga-pandangan/

Rabu, 30 Juni 2010

Seorang Hamba, Diantara Dosa dan Ta’at

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seorang Hamba, Diantara Dosa dan Ta’at

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Para pembaca, semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayahNya kepada kita, judul yang ada di atas merupakan keadaan yang seorang hamba tidak bisa lepas darinya, keadaan seorang hamba hanya berputar-putar dalam lingkaran tersebut. Jika ia sedang tidak berada dalam keta’atan maka ia akan berada dalam kemaksiatan. Dimana jika ia berada dalam keta’atan maka ketahuilah hal itu adalah sebuah nikmat yang teramat agung yang ia wajib untuk disyukuri. Jika ia sedang tidak dalam keadaan ini maka ia dalam keadaan berbuat dosa yang ia dituntut untuk bertaubat dan meminta ampunan kepada Pemilik dirinya dan Pemilik seluruh alam semesta yaitu, Allah ‘azza wa jalla.

Ada bergitu banyak tulisan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengenai hal yang demikian diantaranya adalah apa yang akan kami nukilkan terjemahannya sebagai berikut mudah-mudahan bermanfaat bagi kami dan pembaca sekalian.

Beliau rohimahullah mengatakan[1],

Diantara (perwujudan shifat Hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala) jika Dia menginginkan kebaikan pada hambaNya maka Allah akan buat hambaNya tersebut lupa melihat keta’atan yang telah ia kerjakan[2]. Allah akan angkat hal tersebut dari hati dan lisannya. Jika Allah timpakan baginya musibah berupa dosa yang ia kerjakan di masa lalu maka ia manjadikan musibah yang berupa dosa tersebut selalu berada di pelupuk matanya, ia akan selalu mengingat-ingatnya[3] dan ia melupakan keta’atan yang ia kerjakan di masa lalu. Hal yang selalu ada di benaknya adalah ingatan akan dosa-dosanya yang telah berlalu. Maka bayangan berupa ingatan akan betapa dosa-dosanya yang telah lalu tersebut selalu ada di pelupuk matanya, tatkala ia berdiri maka yang ada di benaknya adalah betapa dosa-dosanya yang telah berlalu, tak kata ia duduk maka yang ada di benaknya adalah betapa dosa-dosanya yang telah berlalu demikian seterusnya tatkala ia pergi ke suatu tempat ataupun ketika ia sedang beristirahat maka yang ada di benaknya adalah betapa dosa-dosanya yang telah berlalu. Maka keadaan jiwanya yang demikian ini sesungguhnya telah menjadi rahmat Allah padanya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan sebagaian salaf,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْذَنْبَ فَيَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ, وَيَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَيَدْخُلُ بِهَا النَّارَ, قَالٌوْا وَكَيْفَ ذَالِكَ؟ قَالَ يَعْمَلُ الْخَطِئَةَ فَلَا تَزَالُ نُصْبَ عَيْنَيْهِ, كُلَّمَا ذَكَرَهَا بَكَى وَ نَدَمَ وَ تَابَ.

“Sesungguhnya (ada) seorang hamba yang melakukan dosa akan tetapi dosa tersebut menyebabkannya masuk surga, dan sesungguhnya (ada) seorang hamba yang melakukan kebaikan akan tetapi kebaikan yang telah ia kerjakan tersebut menyebabkannya masuk neraka”. Lalu orang-orang yang mendengar bertanya, “Apa maksud Anda?” Jawabnya, “Dia melakukan kesalahan, lalu kesalahan tersebit terus menerus diingatnya. Setiap kali dia mengingatnya dia menangis, menyesal, dan bertobat”[4].

Kemudian ia beristighfar, merendahkan dirinya dan kembali kepada Allah dengan penuh perendahan diri dan dengan hati yang tercabik-cabik karena penyesalannya. Kemudian dia mengiringi taubatnya dengan beramal dengan amalan-amalan sholeh maka jadilah dosa yang ia kerjakan dahulu pada hakikatnya menjadi sebab rahmat Allah baginya. Akan tetapi sebaliknya orang yang melakukan amalan-amalan yang dhohirnya amalan kebaikan namun ia senatiasa menjadikan amalan tersebut berada di pelupuk matanya, ia membangga-banggakannya, menunjuk-nujukkannya di hadapan Robbnya dan manusia, lalu ia menyombongkan diri dengannya. Dia menganggap bagaimana mungkin orang seperti dirinya tidak diangggap, tidak dimuliakan oleh manusia. Maka hal ini senantiasa menyertainya demikian juga dampak dari hal ini akan terus menerus ada pada dirinya hingga hal tersebut mengantarkannya ke neraka. Maka…

عَلَامَةُ السَّعَادَةِ أَنْ تَكُوْنَ حَسَنَاتُ الْعَبْدِ خَلْفَ ظَهْرِهِ وَسَيْئَاتُهُ نُصْبَ عَيْنَيْهِ

وَعَلَامَةُ الشَّقَاوَةِ أَنْ يَجْعَلَ حَسَنَاتُهُ نُصْبَ عَيْنَيْهِ وَسَيْئَاتُهُ خَلْفَ ظَهْرِهِ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

“Tanda Kebahagiaan (seorang hamba) adalah ketika ia menjadikan (amal-amal) kebaikannya di belakang punggunnya dan (amal-amal) keburukannya ia tempatkan di pelupuk matanya”.

“Sedangkan tanda kesengsaraan (seorang hamba) adalah ketika ia menjadikan (amal-amal) kebaikannya ia tempatkan di pelupuk matanya dan (amal-amal) keburukannya ia tempatkan di belakang punggunnya, Allahul Musta’an”.

Demikian nukilan berharga dari apa yang disampaikan seorang ulama yang tidak diragukan keilmuannya Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rohimahullah. Mudah-mudahan dengan nukilan ringkas ini kita bisa mengambil pelajaran dan merubah apa yang selama ini salah pada diri kita serta mengajarkan kebenaran kepada orang di sekitar kita.

Aku memohon kapadaMu ya Allah, Ya Robbal ‘Alamin, Jagalah diriku dan orang-orang yang mencintaiMu dan NabiMu shallallahu ‘alaihi was sallam agar jika telah waktunya malaikat maut menjemput tetap tegar dalam islam, iman dan sunnah yang merupakan sebaik-bai bekal ketika bertemu denganMu, Amin Ya Mujibas Saailin.

Diterjemahkan dan diberi catatan kaki oleh,

16 Rojab 1431 H.

HambaNya yang Lemah dan Mengarap Ampunan Robbnya,

Aditya Budiman
[1] Lihat Miftah Daris Sa’adah wa Mansyur Walayati Ahli Ilmi wa Irodah oleh Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rohimahullah dengan tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah hal. 294-295, terbitan Dar Ibnu Affan Mesir.

[2] Bukanlah yang dimaksudkan disini tidak memperhatikan cara ibadahnya, mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam atau tidak dan lain-lain hal yang semisal dengan ini. Akan tetapi yang beliau maksudkan di sini adalah ia tidak mengingat-ingat dalam rangka menyombongkan dirinya di hadapan mahluk. Allahu A’lam pent.

[3] Agar tidak terjerumus dalam dosa yang sama pent.

[4] Perkataan di atas diriwayatkan secara marfu’ sampai kepada Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam. Ibnul Mubarok menyebutkannya dalam Az Zuhd no. 162, demikian juga Ahmad dalam Az Zuhd no. 76/I, melalui jalurnya Al Mubarok bin Fadholah dari Al Hasan secara mursal, terdapat ‘an’anah (istilah ilmu hadits) Al Mubarok dan riwayatnya hasan jika mursal. Al ‘Iroqi meyebutkan syawahid/penguat-penguatnya namun beliau mendhoifkannya dalam takhrij beliau untuk Ihya’ ‘Ulumuddin hal. 14/IV. Diriwayatkan juga oleh Ahmad secara ringkas dalam Az Zuhd no. 164, Ibnul Mubarok no. 164, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Aulya’ hal. 158/II berupa perkataan Hasan Al Bashri. (takhrij ini kami nukil dari tahqiq dan takhrij Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy untuk Kitab Miftah Daris Sa’adah hal. 294/II)

silakan kunjungi http://alhijroh.co.cc/fiqih-tazkiyatun-nafs/seorang-hamba-diantara-dosa-dan-ta%E2%80%99at/

Selasa, 08 Juni 2010

Tazkiyatun Nufus, Salah Satu Misi Pengutusan Nabi

Para pembaca yang semoga dimuliakan oleh Allah, sesungguhnya penyucian hati/tazkiyatun nufus, pembersihan jiwa dari kotoran-kotoran yang ada padanya merupakan salah satu hal penting yang karena Allah Ta’la mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan hal ini dalam kitabNya yang Mulia,

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آَيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. (QS : Al Baqoroh [2] :151).

Demikian juga firman Allah ‘azza wa jalla dalam kitabNya,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS : Ali ‘Imron [3] :164).

Demikian juga firmanNya,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan jiwa mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS : Al Jumu’ah [62] :2).

Demikian juga firman Allah Tabaroka wa Ta’ala,

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ . رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ . رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As Sunnah) serta mensucikan hati mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”.(QS : Al Baqoroh [2] :127-129).

Demikian juga sabda Nabiyul Islam Muhammad bin ‘Abdillah shollallahu ‘alaihi was sallam melalui sahabat Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ (وَفِي رِوَايَةٍ صَالِحَ) الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku (Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam riwayat yang lain dengan lafadz untuk memperbaiki akhlak)”1.

Ayat-ayat dan hadits di atas tegas menjeaskan kepada kita bahwa salah satu misi diutusnya Rosulullah shollallahu ‘alaihi was sallam adalah untuk mentazkiyah jiwa manusia, memperbaiki dan menyempurnakan akhlak yang mulia.

Kemudian jika ada yang bertanya hadits di atas hanya membicarakan akhlak yang mulia dan bukan membicarakan masalah tazkiyatun nufus ?! maka kita katakan bukankah tazkiyatun nufus akan menghasilkan dan melahirkan akhlak yang mulia dan menyeru untuk memperbaiki akhlak ?

Jika hal di atas belum cukup maka ketahuilah bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam adalah qudwah/teladan bagi kita dalam semua hal dan beliau adalah orang yang memiliki akhlak yang mulia di sisi para penduduk mekkah terutama kepada para sahabatnya bahkan apa yang beliau shollallahu ‘alaihi was sallam lakukan ini langsung mendapat pujian yang akan dibaca seluruh ummat hingga waktu yang Allah kehendaki, sebagaimana dalam Al Qur’an,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu wahai Muhammad benar-benar di atas akhlak-akhlak yang agung/mulia”.
selengkapnya silakan lihat http://alhijroh.co.cc/fiqih-tazkiyatun-nafs/tazkiyatun-nufus-salah-satu-misi-pengutusan-nabi/

Rabu, 19 Mei 2010

Apa Kata Mereka Tentang Iman

اخْتَلَفَ النَّاسُ فِيْمَا يَقَعَ عَلَيْهِ اسمُ”الْإِيْمَانِ”، اخْتِلَافًا كَثِيْرًا: فَذَهَبَ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُ وَأَحْمَدُ وَاْلأَوْزَاعِيْ وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه وَسَائِرُ أَهْلِ الْحَدِيْثِ، وَأَهْلُ الْمَدِيْنَةِ وِأَهْلِ الظَّاهِرِ وَجَمَاعَةٌ مِنَ الْمُتَكَلِّمِيْنَ -: إِلَى أَنَّهُ تَصْدِيْقٌ باِلْجِنَانِ، وَإِقْرَارٌ بِالْلِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ.

“Manusia (banyak orang) berselisih pendapat mengenai makna lafadz iman dengan perselisihan yang banyak, Imam Malik, Imam Asy Syafi’iy, Imam Ahmad, Al ‘Auza’iy, Ishaq bin Rohawayh, dan seluruh Ahli Hadits, Ahlu (Pendudukpent.) Madinah, Ahli (Mahzabpent.) Dhohiriy, dan sebagian dari Ahli Kalam/filsafat bahwa Iman adalah pembenaran dengan hati, ikrar dengan lisan dan amal dengan anggota badan”[1].

[1] Lihat Syarh Al Aqidah Ath Thohawiyah oleh Ibnu Abil Izz Al Hanafiy rohimahullah dengan tahqiq oleh Syaikh DR. Abdullah bin Abdul Muhsin At Turkiy dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth hal. 505/II, Terbitan Mu’

Related posts:

1. Penjelasan Singkat Tentang Hadits 99 Nama Allah Azza wa Jalla
2. Allah Menciptakan Seluruh Mahluk agar Mereka Mentauhidkan-Nya Semata dalam Seluruh Ibadah

Jumat, 30 April 2010

Alasanmu yang Tak Bisa Ku Pahami

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Alasanmu yang Tak Bisa Ku Pahami

Para Pembaca, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan hidayah ilmu dan hidayah amal kepada kita. Satu hal yang sering kita saksikan bersama, bahkan pernah mungkin diantara kita ada yang mengatakannya ketika datang seorang yang mengajaknya untuk mempelajari agama islam ini dengan serius serta menerapkannya lalu kemudian dengan mudahnya seseorang yang di ajak tersebut mengatakan, “Nantilah jika hidayah itu memang datang maka aku akan mengikutinya”. Atau mirip dengan hal yang semisal bahkan hal ini tak kalah sering kita dapatkan di kala seorang muslimah yang telah menggunakan hijab/jilbab yang benar mengajak temannya untuk mengenakan hijab/jilbab yang benar kamudian serta merta lidah orang yang di ajak mengatakan, “Hati saya belum terpanggil untuk mengenakan jilbab yang benar”. Maka untuk orang yang mengatakan hal yang demikian ku goreskan pena untukmu wahai saudaraku sesama islam, saudaraku yang sama-sama menginginkan surga.

Sebelum ku ajak kau wahai saudaraku untuk masuk ke dalam inti masalah yang akan kusampaikan padamu, maka aku memandang perlu bahkan sangat perlu untuk kusampaikan firman Allah ‘azza wa jalla yang termaktub dalam kitabNya Al Qur’an yang Mulia untuk kuutarakan maksudku dalam tulisan ini bukanlah untuk mengguruimu apa lagi mencercamu melainkan untuk menerapkan apa yang Allah wajibkan pada kita agar tak tergolong menjadi orang-orang yang merugi,

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ .

“Demi masa. Sesungguhnya seluruh manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beramal sholeh dan saling menginginkan kebaikan dalam kebenaran dan saling menginginkan kebaikan dalam kesabaran”. (QS : Al ‘Ashr [103] :1-3).

Maka inilah yang menjadi pendorongku untuk melakukan hal ini Saudaraku. Setelah ini kau pahami maka aku takkan berpanjang lebar karena aku kira kita sudah sama-sama tahu bahwa menuntut ilmu itu wajib[1] dan memakai pakaian yang benar itu adalah suatu yang pasti benarnya dalam agama islam. Akan tetapi yang ingin aku sampaikan kepadamu adalah apa yang kau jadikan alasan itu adalah alasan yang tidak beralasan sama sekali dan alasan yang terlalu jauh dari apa yang dikatakan Allah ‘Azza wa Jalla dalam kitabNya, alasan yang terlalu muluk dan terlalu lemah untuk dijadikan alasan, wahai saudaraku tidaklah ku katakan demikian berdasarkan hawa nafsuku dan akal pikiranku semata melainkan apa yang Allah ‘Azza wa Jalla katakana dalam kitab yang sama-sama kita baca,

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Maka ketika hati-hati mereka berpaling maka Allah akan palingkan hati-hati mereka, dan Allah tidaklah memberikan hidayahNya kepada orang-orang yang fasik” (QS : Ash Shof [61] :5).

Syaikh Abdur Rohman bin Nashir As Sadiy rohimahullah mengatakan ketika menafsirkan ayat ini,

“Yang dimaksud dengan firman Allah (فَلَمَّا زَاغُوا) adalah ketika mereka berpaling dari kebanaran dengan maksud yang ada di hati mereka, maka (أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ) Allah palingkan hati-hati mereka sebagai hukuman bagi mereka karena penyimpangan hati mereka yang mereka pilih untuk diri mereka, ridho/rela terhadap penyimpangan tersebut, sehingga Allah tidak akan memberikan kepada mereka hidayah karena mereka tidaklah layak mendapatkan hidayah kepada kebenaran tersebut dan mereka tidaklah menginginkan kebaikan melainkan yang mereka inginkan adalah kesesatan”.

selanjutnya silakan lihat di http://alhijroh.co.cc/fiqih-tazkiyatun-nafs/alasanmu-yang-tak-bisa-ku-pahami/

Senin, 26 April 2010

Panduan Praktis Tata Cara Wudhu

Panduan Praktis Tata Cara Wudhu

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Kedudukan wudhu dalam sholat

Wudhu merupakan suatu hal yang tiada asing bagi setiap muslim, sejak kecil ia telah mengetahuinya bahkan telah mengamalkannya. Akan tetapi apakah wudhu yang telah kita lakukan selama bertahun-tahun atau bahkan telah puluhan tahun itu telah benar sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam? Karena suatu hal yang telah menjadi konsekwensi dari dua kalimat syahadat bahwa ibadah harus ikhlas mengharapkan ridho Allah dan sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam. Demikian juga telah masyhur bagi kita bahwa wudhu merupakan syarat sah sholat[1], yang mana jika syarat tidak terpenuhi maka tidak akan teranggap/terlaksana apa yang kita inginkan dari syarat tersebut. Sebagaimana sabda Nabi yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam,

« لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ »

“Tidak diterima sholat orang yang berhadats sampai ia berwudhu”.[2]

Demikian juga dalam juga Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada kita dalam KitabNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Maka marilah duduk bersama kami barang sejenak untuk mempelajari shifat/tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam.

Pengertian wudhu

Secara bahasa wudhu berarti husnu/keindahan dan nadhofah/kebersihan, wudhu untuk sholat dikatakan sebagai wudhu karena ia membersihkan anggota wudhu dan memperindahnya[3]. Sedangkan pengertian menurut istilah dalam syari’at, wudhu adalah peribadatan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan mencuci empat anggota wudhu[4] dengan tata cara tertentu. Jika pengertian ini telah dipahami maka kita akan mulai pembahasan tentang syarat, hal-hal wajib dan sunnah dalam wudhu secara ringkas.

Tata Cara Wudhu secara Global

Adapun tata cara wudhu secara ringkas berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dari Humroon budak sahabat Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu[5],

عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ ، فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِى الْوَضُوءِ ، ثُمَّ تَمَضْمَضَ ، وَاسْتَنْشَقَ ، وَاسْتَنْثَرَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاَثًا ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ، ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجْلٍ ثَلاَثًا ، ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا وَقَالَ « مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Humroon -bekas budak Utsman bin Affan-, suatu ketika ‘Utsman memintanya untuk membawakan air wudhu (dengan wadahpent.), kemudian ia tuangkan air dari wadah tersebut ke kedua tangannya. Maka ia membasuh kedua tangannya sebanyak tiga kali, lalu ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudhu kemudian berkumur-kumur, lalu beristinsyaq dan beristintsar. Lalu beliau membasuh wajahnya sebanyak tiga kali, (kemudian) membasuh kedua tangannya sampai siku sebanyak tiga kali kemudian menyapu kepalanya (sekali sajapent.) kemudian membasuh kedua kakinya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengatakan, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu dengan wudhu yang semisal ini dan beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Barangsiapa yang berwudhu dengan wudhu semisal ini kemudian sholat 2 roka’at (dengan khusyuked.)dan ia tidak berbicara di antara wudhu dan sholatnya[6] maka Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu”[7].
selengkapnya silakan lihat http://alhijroh.co.cc/fiqih-tazkiyatun-nafs/panduan-praktis-tata-cara-wudhu/

Minggu, 25 April 2010

Tata Cara Tayammum

Segala puji hanya kembali dan milik AllahTabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawatdan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulul Islam,Muhammad bin Abdillah shollallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliauradhiyallahu ‘anhum.

Mungkin tidak jarang dari kita melihat sebagian dari saudara-saudara kita kalangan kaum muslimin yang masih asing dengan istilah tayammum atau pada sebagian lainnya hal ini tidak asing lagi akan tetapi belum mengetahui bagaimana tayammum yang Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam ajarkan serta yang diinginkan oleh syari’at kita. Maka penulis mengajak pembaca sekalian untuk meluangkan waktu barang 5 menit untuk bersama mempelajari hal ini sehingga ketika tiba waktunya untuk diamalkan sudah dapat beramal dengan ilmu.

Pengertian Tayammum

Kami mulai pembahasan ini dengan mengemukakan pengertian tayammum. Tayammum secarabahasa diartikan sebagai Al Qosdu (القَصْدُ) yang berarti maksud.

Sedangkan secara istilah dalam syari’at adalah sebuah peribadatan kepada Allah berupa mengusap wajah dan kedua tangan dengan menggunakan sho’id yang bersih[1].

Sho’id adalah seluruh permukaan bumi yang dapat digunakan untuk bertayammum baik yang terdapat tanah di atasnya ataupun tidak[2].





Dalil Disyari’atkannya Tayammum

Tayammum disyari’atkan dalam islam berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’ (konsensus) kaum muslimin[3]. Adapun dalil dari Al Qur’an adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al Maidah [5] : 6).

Adapun dalil dari As Sunnah adalah sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu,

« وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ »

“Dijadikan bagi kami (ummat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi was sallam ) permukaan bumi sebagai thohur/sesuatu yang digunakan untuk besuci[4] (tayammum) jika kami tidak menjumpai air”.[5]

Media yang dapat Digunakan untuk Tayammum

Media yang dapat digunakan untuk bertayammum adalah seluruh permukaan bumi yang bersih baik itu berupa pasir, bebatuan, tanah yang berair, lembab ataupun kering.

Hal ini berdasarkan hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu di atas dan secara khusus,

جُعِلَتِ الأَرْضُ كُلُّهَا لِى وَلأُمَّتِى مَسْجِداً وَطَهُوراً

“Dijadikan (permukaan, pent.) bumi seluruhnya bagiku (Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) dan ummatku sebagai tempat untuk sujud dan sesuatu yang digunakan untuk bersuci”.[6]

Jika ada orang yang mengatakan bukankah dalam sebuah hadits Hudzaifah ibnul Yaman[7] Nabi mengatakan tanah?! Maka kita katakan sebagaimana yang dikatakan oleh Ash Shon’anirohimahullah,“Penyebutan sebagian anggota lafadz umum bukanlah pengkhususan”[8]. Hal ini merupakan pendapat Al Auzaa’i, Sufyan Ats Tsauri Imam Malik, Imam Abu Hanifah[9] demikian juga hal ini merupakan pendapat Al Amir Ashon’ani[10], Syaikh Al Albani[11], Syaikh Abullah Alu Bassaam[12]-rohimahumullah-, Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan[13] dan Syaikh DR. Abdul Adzim bin Badawiy Al Kholafiy hafidzahumallah[14].
selengkapnya silahkan lihat di
http://alhijroh.co.cc/fiqih-tazkiyatun-nafs/tata-cara-tayammum/

Selasa, 20 April 2010

Konsultasi

Pertanyaan :

Jika Anda Mengatakan Semua Perkara yang Tidak Ada di Zaman Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam adalah Bid’ah Maka Pengeras Suara yang Anda Gunakan untuk Kajian Juga Bid’ah ?


Jawaban :

Jawaban masalah ini sebenarnya simpel/sederhana, namun perlu kami jelaskan bahwa penanya belum paham apa yang dimaksud dengan bid’ah dan ibadah. Oleh karena itu kami akan jelaskan dua hal tersebut secara ringkas.

Pertama, Bid’ah/perkara baru yang dimaksudkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

إِيَّاكُمْ وَالأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat”[1].


Maka yang dimaksud perkara-perkara baru (لأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ) dan bid’ah (بِدْعَةٍ) dalam hadits di atas adalah perkara baru dalam urusan agama dan bukanlah perkara baru dalam urusan dunia. Karena perkara-perkara baru dalam masalah dunia jika perkara tersebut bermanfaat maka padanya kebaikan demikian juga jika perkara tersebut terdapat bahaya maka perkara tersebut adalah perkara yang buruk. Akan tetapi jika perkara yang baru tersebut adalah perkara dalam agama maka seluruhnya buruk karena itulah Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam mengatakan dalam lanjutan haditsnya,

فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat[2]”[3].

Demikian juga dijelaskan dalam hadits yang lain bahwa bid’ah yang terlarang adalah bid’ah dalam masalah agama bukan bid’ah dalam masalah dunia sebagaimana sabda Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”[4].

Hadits ini juga memiliki lafadz hadits lain yang disebutkan Ibnu Rojab dalam kitabnya,

مَنْ أَحْدَثَ فِى دِيْنِنَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengadakan suatu hal yang baru dalam masalah agama kami maka perkara tersebut tertolak/tidak diterima”[5].

Dengan dua penjelasan di atas maka jelaslah bagi kita sejelas-jelasnya bahwa perkara baru yang tercela dan sesat adalah perkara baru dalam urusan agama.

Kedua, Ketahuilah, para ulama menjadikan perkara ibadah menjadi dua macam. Macam pertama adalah ibadah yang murni ibadah (ibadah mahdhoh). Ibadah yang satu ini harus melalui wahyu, tanpa wahyu seseorang tidak mungkin mengamalkannya. Contohnya adalah shalat, puasa, dan dzikir. Ibadah jenis pertama ini tidak boleh seseorang membuat kreasi baru di dalamnya. Sedangkan macam kedua adalah ibadah bukan murni ibadah (ghoiru mahdhoh). Macam kedua ini, asalnya adalah perkara mubah atau perkara dunia. Namun karena diniatkan untuk ibadah, maka bernilai pahala. Seperti berdagang, jika diniatkan ikhlas karena Allah untuk menghidupi keluarga, bukan semata-mata untuk cari penghidupan, maka nantinya bernilai pahala.[6]

Jika pengertian ini telah kita pahamai maka akan mudah kita bagi kita untuk memahami bahwa penggunaan microphone dalam pengajian, adzan dan lain-lain bukanlah termasuk bid’ah dalam istilah syari’at. Namun hanya berupa bid’ah secara bahasa yang berarti perkara yang baru dalam masalah dunia dan hal ini tidaklah termasuk dalam hadits tentang larangan berbuat bid’ah.
selengkapnya silakan lihat
http://alhijroh.co.cc/fiqih-tazkiyatun-nafs/dianggap-bidah-padahal-nikmat-allah/