Motto Santri :

Utlubul Ilma Minal Mahdi Ilallahdi
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Februari 2011

Goresan Pesan Untuk Pembela Kebenaran

Segala puji bagi Allah, salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba’du.

Istilah dakwah salafiyah sudah tidak asing lagi di telinga kita. Suka atau tidak suka semua kelompok -kecuali Syi’ah dan bala tentaranya- pada akhirnya tentu akan sepakat jika kita ajak untuk mengikuti para sahabat secara umum, walaupun dalam prakteknya mereka banyak menyelisihi generasi terbaik tersebut. Mereka -secara umum- bahkan mengklaim apa yang mereka yakini sebagai pemahaman para Sahabat, walaupun klaim mereka tidak dilandasi dengan bukti yang memadai. Yang memprihatinkan adalah, tatkala terbukti secara ilmiah bahwa apa yang mereka yakini atau amalkan ternyata bertentangan dengan pemahaman Sahabat mulailah muncul sikap permusuhan dan aksi penolakan. Terkadang penolakan itu sekedar dipendam di dalam hati, terkadang diucapkan dengan lisan, dan tidak jarang berakhir dengan peperangan, Allahul musta’an…

Saudaraku, sesungguhnya penisbatan kepada salafus shalih adalah penisbatan yang mulia dan terpuji, bukan perkara yang tercela sama sekali. Hal itu berulang kali kita dengar dari nukilan para ulama, di antaranya Syaikhul Islam Abul Abbas al-Harrani rahimahullah. Namun, yang menjadi persoalan sekarang ini adalah tatkala penisbatan ini dirancukan dengan sikap golongan atau kelompok tertentu yang mempersempit makna salafiyah. Kita memang tidak ingin memasukkan perusak dakwah ke dalam jajaran Salafi. Demikian pula sebaliknya. Kita juga tidak ingin menjatuhkan orang-orang yang masih bisa diperhitungkan perannya dalam dakwah yang agung ini dari kedudukan yang semestinya.

Oleh sebab itu wahai saudaraku, sudah semestinya kita bisa bersikap bijak dan adil dalam menilai dan bersikap, baik kepada diri kita sendiri ataupun kepada orang lain; yang mungkin kita anggap berseberangan dengan kita dalam banyak hal. Perhatikanlah bagaimana para Sahabat -teladan kita semua- dalam menilai diri mereka sendiri dan dalam memposisikan orang lain sebagaimana mestinya. Kita masih ingat, penuturan Ibnu Abi Mulaikah yang sangat masyhur dan dikutip oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, “Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ternyata mereka semuanya khawatir dirinya terjangkit kemunafikan.” Ini adalah salah satu bukti kerendahan hati para Sahabat bersama dengan segala kebesaran yang mereka miliki. Amat jauh dengan keadaan sebagian kita pada hari ini, yang terkadang -secara tak terasa- telah menobatkan diri sendiri sebagai juru bicara kafilah dakwah yang mulia ini; sehingga siapapun yang berseberangan dengannya dianggap sebagai musuh dakwah salafiyah, laa haula wa laa quwwata illa billah!

Dari situlah, alangkah tepat apa yang diungkapkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah tatkala menggambarkan sosok manusia yang bijak. Beliau menjelaskan, “Orang yang paling bijak itu adalah yang menjadikan keluhannya kepada Allah -atas musibah/cobaan yang menimpanya- dikarenakan kesalahan dirinya sendiri, bukan malah dengan mengambinghitamkan orang lain.” Di satu sisi, seorang Salafi memang dituntut untuk merasa mulia dan bergembira dengan kelurusan manhaj yang telah mereka pilih dan jalani. Akan tetapi, jangan dilupakan pula bahwa salah satu bagian dari kelurusan manhaj ini adalah tidak meremehkan orang lain atau menolak kebenaran yang disampaikan oleh orang atau kelompok lain. Tentu saja kita ingat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa hal itu merupakan bentuk kesombongan.

Memang, kita harus angkat bicara untuk mengoreksi berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh sekte-sekte sesat. Itu merupakan bagian dari nasehat. Bahkan, tidak akan tegak agama ini tanpanya. Namun, sekali lagi kita harus bisa membedakan antara pengusung manhaj dengan manhaj itu sendiri. Kita semua tahu bahwa para Sahabat itu secara individu tidaklah ma’shum, kita tentu saja jauh berada di bawah mereka. Apabila -misalnya- ada salah seorang Sahabat -yang karena ketidaksengajaan darinya atau ketidaktahuan- sedikit melenceng dari Sunnah, kemudian kita tidak mengeluarkannya dari jajaran para Sahabat. Maka demikian pula semestinya, apabila kita melihat ada sebagian saudara kita yang dengan sebab yang sama terjerumus dalam bentuk penyimpangan terhadap sebagian cabang Sunnah tanpa dia sadari. Tentu tidaklah bijak apabila dengan serta merta dan tanpa tabayyun lantas kita pun mencoret namanya dari jajaran pengikut generasi utama; apalagi sampai membid’ahkan atau mengkafirkannya tanpa alasan yang kuat.

Banyak hal yang harus kita ukur dan kaji jika kita hendak menjatuhkan vonis berat semacam itu, apalagi pada hakekatnya itu bukanlah wilayah kewenangan kita para pemula yang mencium aroma pengajian belum berapa lama. Di antara poin paling pokok yang harus kita garis bawahi adalah pondasi keikhlasan. Tidak ada yang mengingkari bahwa poin ini merupakan intisari dari agama Islam yang hanif ini. Inilah standar utama dalam menilai dan menyikapi. Memang, ikhlas adalah amalan hati. Namun, itu bukan berarti keikhlasan itu tidak bisa dideteksi. Seorang yang jujur dengan keikhlasannya tentu akan sangat tidak menyukai ketenaran. Selain itu, seorang yang ikhlas tidak beramal atau berdakwah untuk mengejar target-target duniawi. Inilah sebabnya mengapa para Sahabat senantiasa berusaha mengoreksi dirinya sendiri sebelum jauh berbicara mengenai penyimpangan yang dilakukan oleh orang lain. Kita tentu masih ingat ucapan emas Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, “Seorang mukmin sejati itu selalu memandang dosa-dosanya seakan-akan dia duduk di bawah gunung dan khawatir kalau-kalau gunung itu akan runtuh menjatuhi dirinya. Adapun seorang fajir akan memandang dosa-dosanya hanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya kemudian dia pun menghalaunya dengan begini -upaya yang ringan sekali- (meremehkannya, pen).”

Benar, pembicaraan mengenai sesuai atau tidak dengan Sunnah adalah pembicaraan mengenai cara, bukan niatnya. Akan tetapi ingatlah, bahwa yang kita nilai dengan timbangan syari’at adalah manusia seperti kita; yang sarat dengan kekurangan dan ketidaktahuan. Kita harus memandang mereka tidak hanya dengan kaca mata syari’at, namun juga dengan kaca mata takdir; kaca mata kasih sayang dan belas kasihan. Mungkin hujjah belum sampai kepada mereka, mungkin mereka salah paham, mungkin ada perilaku kita yang justru menjauhkan mereka dari dakwah ini, mungkin… mungkin… Ada banyak sekali kemungkinan yang mengharuskan kita bersikap hati-hati dan tidak sembarangan menjatuhkan vonis sesat kepada sebagian saudara kita yang berbeda pandangan dengan kita. Inilah mungkin yang selama ini jarang kita praktekkan. Kita justru sering mengambil sikap dan tindakan seolah-olah kita adalah manhaj salaf itu sendiri. Sehingga kita tidak pernah mengenal istilah kompromi dan toleransi. Hantam sana-sini tak peduli, toh ini kan bagian dari nasehat, begitu tipu daya setan yang kerap menghampiri telinga kita -yang penuh dengan ‘kotoran’- ini.

Tidakkah kita ingat wahai saudaraku, bagaimana kelembutan dan kebijakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah kepada orang-orang munafik. Padahal, kita juga mengetahui bersama bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun diperintahkan oleh Allah untuk berjihad melawan mereka dan bersikap keras kepada mereka. Apakah ini artinya beliau tidak taat atau mengkhianati tugasnya; atau akan kita katakan bahwa beliau bersikap plin-plan, sama sekali tidak! Hal ini justru memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita bahwa terkadang orang yang paling keras permusuhannya kepada kita itulah yang berhak untuk kita perlakukan dengan lemah lembut, bukan dengan sikap keras. Inilah kandungan pesan yang pernah dinasehatkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah kepada segenap penyeru dakwah salafiyah yang mulia ini…

Sederhananya; seorang Salafi memang dituntut untuk membela manhaj yang haq ini selama-lamanya. Namun, di sisi lain dia juga harus mengingat bahwa dirinya -atau gurunya sekalipun- adalah manusia biasa yang berusaha meniti manhaj ini dengan segala keterbatasan yang ada pada dirinya. Dengan kesadaran semacam inilah akan lenyap segala bentuk fanatisme buta… Allahul muwaffiq.


http://abumushlih.com/goresan-pesan-untuk-pembela-kebenaran.html/

Kamis, 04 November 2010

Takutmu Akan Berbuah Kasih Sayang

egala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.
Alhamdulillah tertutur dari penulis, ini merupakan artikel baru setelah sekian lama blog ini agak vacum karena terlahang masalah akademik diperkuliahan. Namun alhamdulillah urusan tersebut sudah bisa terlaksana.
Pembaca sekalian –semoga Allah merahmati kita semua-, sudah menjadi sebuah hal yang sering kita temui dalam ayat-ayat Al Qur'an, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengakhiri ayat-ayatNya dengan nama dan shifatNya yang mulia. Maka sudah barang tentulah hal ini mengandung hikmah yang amat sangat dari Dzat Yang Maha Hikmah untuk kita tadabburi. Diantaranya adalah dalam firman Allah 'Azza wa Jalla dalam sebuah surat yang amat populer di negri kita ini yaitu surat Yaasiin,
إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ
“Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang khosyah kepada Dzat Yang Maha Rohmah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. ". (QS : Yaasiin [36] : 11).
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengaitkan shifat hamba yang khosyah kepadaNya dengan salah satu nama Allah yang mulia yaitu Ar Rohman. Khosyah secara bahasa arab berarti takut. Namun Allah 'Azza wa Jalla membedakan antara khouf dan khosyah yang secara bahasa artinya sama-sama takut, dalam firmanNya,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang berilmu/ulama’ dari hamba Allah yang takut kepadaNya ”.(QS. Fathir [35] : 28).
Allah menyatakan bahwa hanya orang-orang yang berilmu/ulama’ yang memiliki shifat khosyah kepada Allah. Maka hal ini menunjukkan bahwa khosyah adalah rasa takut hamba yang disebabkan ilmunya terhadap hal yang ditakuti.
Jika hal di atas telah kita pahami maka kita kembali ke ayat Allah di surat Yaasiin ayat 11. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah mengatakan dalam tafsir beliau untuk surat yaasiin (yang hakikatnya adalah Syarh Beliau untuk surat Yaasiin Tafsir Jalalain),
“Allah Subhanahu wa Ta'ala memilih nama Ar Rohman untuk ayat ini dan bukan lafadz jalalah Allah (salah satu hikmahnya adalah) karena manusia yang khosyah kepada Allah mereka takut kepada Allah karena di dasari ilmu. Maka Allah membuat orang yang khosyah kepadaNya tenang karena sesungguhnya Dzat yang mereka takuti/ khosyah kepadaNya adalah Dzat Yang Maha Rohmah. Sehingga semakin besar rasa khosyah/takut mereka kepada Allah maka semakin besar juga rohmah/sayang Allah kepada mereka. Hal ini karena Allah adalah Dzat yang jika manusia khosyah/takut padaNya maka Allah akan merahmati mereka” .
Sehingga orang yang benar-benar khosyah kepada Allah pasti akan melaksanakan perintah Allah semaksimal kemampuannya dan akan menjauhi semua larangan Allah. Maka ketika dia melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, hendaklah ia tanamkan dalam hatinya sekuat-kuatnya bahwa perintah yang perintahkan hambaNya untuk melaksanakannya dan larangan yang Allah larang hambaNya darinya, salah satu sebabnya adalah karena rohmah dan kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya.
Allahu a’lam, mudah-mudahan hal ini bisa menjadi renungan yang berbuah amal bagi penulis dan pembaca sekalian.

26 Dzul Qo’dah 1431 H/03 Novemver 2010
Al Faqiir ilaa Maghfiroti Robbih,
Aditya Budiman bin Usman

http://alhijroh.net/aqidah/takutmu-akan-berbuah-kasih-sayang/

Senin, 27 September 2010

Salafiy atau Murji’ah....

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.
Sering kita mendengar ucapan atau perkataan orang yang mengatakan bahwa, “Amalan keta’atan merupakan buah dari adanya tashdiq/iman dalam hati”. Apakah perkataan semisal ini merupakan buah dari aqidah murji’ah atau bahkan aqidah murji’ah itu sendiri sehingga orang yang mengatakan hal demikian keluar dari manhaj ahlus sunnah wal jama’aha atau tidak ?! Maka tak jarang kita temukan sebagian orang yang –Allahu a’lam-terlalu bersemangat dalam masalah memisahkan antara ahlus sunnah dan ahlul bida’ -dalam hal ini murji’ah- langsung memvonis orang yang punya perkataan demikian yaitu “Amalan keta’atan merupakan buah dari adanya tashdiq/iman dalam hati” langsung keluar dari barisan ahlus sunnah dan tidak lagi salafiy.
Untuk meluruskan masalah ini maka marilah kita lihat sejenak apa yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah rohimahullah.
“Perkataan orang yang mengatakan bahwa amalan keta’atan merupakan buah dari adanya tashdiq/iman dalam hati (maka) hal ini memiliki dua kemungkinan,
[Pertama] Apabila yang dimaksudkan dari perkataan tersebut bahwa amalan keta’atan merupakan konsekwensi realistis terhadap adanya tashdiq dalam hati yang berarti jika iman ada dalam hati maka pastilah ada amalan keta’atan. Maka kalimat/perkataan di atas benar dan inilah manhaj salafiy yaitu manhaj ahlus sunnah.
[Kedua] Apabila yang dimaksudkan dari perkataan tersebut bahwa iman/tashdiq dalam hati merupakan sebab adanya amalan keta’atan yang berarti bahwa iman yang ada dalam hati itu merupakan iman yang sempurna walaupun tidak ada amalan keta’atan (sama sekali) maka ini adalah pendapat murji’ah dari jahmiyah dan dari golongan lainnya .
Maka dari hal di atas terlihat jelas bagaimana sikap ulama’ ahlus sunnah menyikapi perkataan “Perkataan orang yang mengatakan bahwa amalan keta’atan merupakan buah dari adanya tashdiq/iman dalam hati” dan demikianlah adab para ulama ahlus sunnah dalam mengkritik sebuah perkataan. Allahu A’lam. Semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
silakan lihat http://alhijroh.net/aqidah/salafiy-atau-murji%E2%80%99ah/

Minggu, 15 Agustus 2010

Syarat Laa Ilaha Illallahu dan Dalilnya (1)

Syarat Laa Ilaha Illallahu dan Dalilnya (1)
Manusia Allah Subhanahu wa Ta'ala ciptakan di muka bumi ini dengan tujuan untuk menegakkan kalimat Allah yaitu Laa Illaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ), yang realisasi dari kalimat ini adalah tauhid kepada Allah 'azza wa jalla. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk mentauhidkanKu ". (QS : Adz Dzariyat [51] :56).
Demikian juga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus pada Nabi dan para Rosul adalah untuk mengajarkan kepada manusia kepada pentauhidan kepada Allah, hal ini sebagaimana firman Allah 'azza wa jalla,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Tidaklah kami mengutus seorang Rosul/utusan sebelummu kecuali kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku (Allah) maka bertauhidlah pada Ku (Allah) ”. (QS : Al Anbiya’ [21] : 25).
Cukuplah dua ayat di atas untuk menjelaskan kepada kita betapa mulia dan agungnya mentauhidkan Allah 'azza wa jalla. Namun sayang, tidak sedikit diantara orang di sekililing kita yang mengucapkan kalimat ini akan tetapi tidak paham makna dan konsekwensi dari kalimat ini. Untuk itulah kami akan uraikan secara ringkas tentang syarat kalimat tauhid dan dalil-dalilnya dari kitab para ulama’ namun secara ringkas.
Pengertian Syarat
Syarat dalam istilah fiqih berarti sesuatu yang tidak akan sempurna (sah pent.) suatu yang disyaratkan kecuali dengannya . Agar lebih memudahkan pemahaman kita ambil contoh ibadah sholat, ibadah ini tidaklah akan dinilai sebagai sholat yang sah apabila syaratnya tidak terpenuhi yaitu wudhu. Sehingga apabila seseorang melakukan ibadah sholat tanpa berwudhu maka sholatnya tidaklah sah bahkan ia berdosa apabila nekat sholat tanpa wudhu dalam keadaan ia tahu bahwa wudhu merupakan syarat sah sholat .
Sebelum kita masuk kepada pembahasan selanjutnya, perlu kami sampaikan bahwasanya syarat-syarat yang akan kami sebutkan berikut ini yang terpenting adalah pengamalannya, sehingga mungkin saja ada seseorang yang tidak hafal syarat-syarat ini namun ia telah mengamalkan seluruhnya maka sudah cukup baginya, Allahu a’lam.
Kemudian jika hal di atas kita pahami, mungkin diantara kita ada yang bertanya dari mana penetapan syarat Laa Illaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) ini ? Maka jawabnya adalah hal ini ditetapkan dari Al Qur'an dan As Sunnah dengan metode istiqro’ dan tatabbu’ (penulusuran). Hal ini bukanlah merupakan bid’ah sebagaimana para ulama’ ijma’ bahwa pada ibadah sholat ada syarat dan rukunnya . Dan kami tambahkan karena maksud dari penetapan 7 syarat ini adalah untuk memudahkan bagi kaum muslimin untuk memahaminya sehingga sebagaimana kami singgung di atas, yang terpenting dalam hal ini adalah pengamalan terhadap seluruh syaratnya dan bukanlah pembagiannya. Allahu a’lam.
Syarat Pertama, Al Ilmu (Mengetahui Maknanya)
Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu yang menghilangkan kebodohan, dan secara istilah ilmu adalah mengetahui sesuatu secara pasti sebagaimana keadaan yang sebenarnya (sesuai dengan dalilnya) .
Kemudian, makna Laa Illaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) adalah Laa Ma’buda bi Haqqin Illallahu (لَا مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلَّا اللهُ) yang berarti tidak ada sesembahan (seluruhnya) yang berhak diibadahi kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala. Inilah tafsir yang benar dari kalimat tauhid, tidak sebagaimana anggapan sebagian orang, atau anggapan yang telah ditanamkan kepada kita sejak kecil yaitu tidak ada Pencipta dan Pemberi Rizki kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau tidak ada Dzat yang menghidupkan dan mematikan kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka ketahuilah makna ini adalah makna yang sangat jauh dari makna yang dikehendaki oleh Allah 'azza wa jalla dan RosulNya shallallahu ‘alaihi was sallam, lihatlah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini,
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah (kepada mereka yang berbuat kemusyirikan kepada Allah) siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan dan menguasai) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah." Maka katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”. (QS : Yunus [10] : 31).
Berdasarkan ayat di atas dan ayat-ayat yang lainnya kita dapat mengetahui bathilnya penafsiran kalimat Laa Illaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) dengan tafsiran tidak ada Pencipta dan Pemberi Rizki kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau tidak ada Dzat yang menghidupkan dan mematikan kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Demikian juga betapa Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam telah memberitahukan kepada kita melalui hadits-haditsnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh al Imam Muslim dalam kitab Shohihnya,
مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ
“Barangsiapa yang mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah dan kufur/mengingkari terhadap seluruh ibadah kepada selain Allah (maka) darahnya dan hartanya haram (terlindungi) sedangkan hisabnya (perhitungan amalmya) di sisi Allah” .

Pada hadits yang mulia ini Nabi shollallahu 'alaihi was sallam jelas mengaitkan adanya keterlindungan jiwa dan harta dengan 2 hal yaitu,
[1.] Dengan mengucapkan kalimat (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ)
[2.] Dengan mengingkari (baik dengan secara lahir dan bathin pent.) seluruh bentuk peribadatan kepada selain Allah.
Jika dua hal ini telah terealisasi maka harta dan jiwanya terlindungi karena ia telah menjadi seorang muslim dan seorang muslim harta dan jiwanya terlindungi .
Berdasarkan tafsir di atas jelaslah bagi kita bahwa inti yang dimaksudkan dari kalimat Laa Illaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) yang dimaksudkan adalah mentauhidkan Allah dalam masalah peribadatan atau yang disebut para ulama dengan tauhid uluhiyah atau tauhid ath tholab wal qoshdu .
selengkapnya http://alhijroh.net/aqidah/syarat-laa-illaha-illallahu-dan-dalilnya-1/

Senin, 02 Agustus 2010

Bukan Sekedar Ucapan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bukan Sekedar Ucapan



Sesungguhnya sholat kita, sembelihan kita, hidup kita dan mati kita hanyalah untuk Allah ‘azza wa jalla dan tidak untuk selainnya. Demikianlah yang seharusnya senantiasa terpatri dalam hidup dan kehidupan setiap muslim.


Hal ini merupakan realisasi dan perwujudan nyata dari sebuah kalimat yang agung yaitu ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) Tiada Sesembahan yang Benar Disembah Melainkan Hanya Allah ‘Azza wa Jalla Semata.


Namun sayang sungguh sangat disayangkan demikian banyak orang yang mengucapkan kalimat ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) namun tidak mengerti konsekwensinya yang ia adalah rukun dan syarat[1] diterimanya kalimat tersebut.


Penjelasan tentang hal ini tidaklah luput dari perhatian Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi was sallam bahkan ia adalah misi terbesar diutusnya para Nabi dan Rosul yaitu untuk menegakkan kalimat (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) dan merealisasikannya. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas melalui hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim rohimahullah dalam kitab Shohihnya,


مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Barangsiapa yang mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah dan kufur/mengingkari terhadap seluruh ibadah kepada selain Allah (maka) darahnya dan hartanya haram (terlindungi) sedangkan hisabnya (perhitungan amalmya) di sisi Allah”[2].


Hadits yang mulia ini adalah seagung-agung dan sejelas-jelasnya dalil yang menjelaskan bahwa sekedar mengucapkan kalimat (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) tidaklah memasukkan seseorang ke dalam islam. Melainkan harus ada padanya 2 unsur yang merupakan hakikat dari tafsir tauhid yaitu penetapan seluruh tauhid uluhiyah hanya kepada Allah semata dan peniadaaan seluruh tauhid uluhiyah terhadap selain Allah[3].


Pada hadits yang mulia ini Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam jelas mengaitkan adanya keterlindungan jiwa dan harta dengan 2 hal yaitu,

[1.] Dengan mengucapkan kalimat (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ)

[2.] Dengan mengingkari (baik dengan secara lahir dan bathin pent.) seluruh bentuk peribadatan kepada selain Allah.

Jika dua hal ini telah terealisasi maka harta dan jiwanya terlindungi karena ia telah menjadi seorang muslim dan seorang muslim harta dan jiwanya terlindungi[4].


Berdasarkan hadits yang agung ini Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah mengatakan,

“Jika ada orang yang mengucapkan kalimat (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) dan menilai/berpendapat bahwa orang nashrani dan yahudi pada zaman ini berada dalam agama yang benar[5] maka ia bukanlah seorang muslim. Demikian juga barang siapa yang menilai/berpendapat bahwa agama-agama yang ada hanyalah berupa pola pikir (أَفْكَار) yang mana setiap orang bebas memilih agama mana yang ia kehendaki[6] maka ia bukanlah seorang muslim”[7].
selengkapnya di
http://alhijroh.net/aqidah/bukan-sekedar-ucapan/

Dia adalah Sebuah Hal yang Pasti Terjaga…!!

‫بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dia adalah Sebuah Hal yang Pasti Terjaga…!!

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Pada kesempatan kali ini kami ingin sedikit mengingatkan kita tentang suatu perkara yang amat penting yang merupakan sebuah pondasi dasar dalam islam yaitu keterjagaan sunnah/hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam.

Hal ini kami anggap penting untuk dikemukakan karena sebagian orang punya pemahaman bahwa kita tidak butuh sunnah/hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam cukup dengan Al Qur’an saja. Atau ada perkataan lain semisal sunnah/hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam sudah banyak yang dipalsukan jadi tidak bisa dijadikan pegangan lagi sekarang..!??! Atau perkataan yang amat sangat buruk sekali yang semisal ini.

Untuk itulah kami memandang perlu menukilkan penjelasan ringkas dalam masalah ini dari para ulama ahlus sunnah. Ayat atau dalil yang kami bawakan di sini mungkin sudah pernah kita baca namun belum kita tadabburi dengan baik.

Ayat tersebut adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang amat agung,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Adz Dzikr, agar kamu memberikan bayan pada seluruh umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (QS : An Nahl [16] : 44).

Para ulama mufassirin sepakat/ijma’ yang dimaksud dengan Adz Dzikr (الذِّكْرَ) dalam ayat ini adalah Al Qur’an Al Karim. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Jauziy rohimahullah dalam kitab tafsirnya Zaadul Masiir[1]. Dengan demikian Al Qur’an yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam untuk memberikan bayan kepada seluruh manusia. Lantas apa hubungan ayat ini dan topik tulisan ini ?! mungkin ada diantara kita yang bertanya demikian. Maka kami katakan hubungannya adalah hubungan yang sangat erat dengan penjelasan sebagai berikut.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albaniy rohimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan bayan dalam ayat ini mencakup dua hal yaitu[2],

[1.] Penjelasan/bayan tentang lafadz dan susunan kata dalam Al Qur’an, maka hal ini merupakan bentuk tabligh/penyampaian beliau shallallahu ‘alaihi was sallam terhadap Al Qur’an dan bentuk penyangkalan terhadap adanya ayat Al Qur’an yang disembunyikan serta bentuk penunaian tugas beliau shallallahu ‘alaihi was sallam kepada ummatnya sebagaimana yang Allah perintahkan dalam firmanNya,

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ

“Wahai Rosul, sampaikanlah apa yang diturunkan dari Robbmu kepadamu”. (QS : Al Maidah [5] : 67).

[2.] Penjelasan/bayan makna lafadz/kata, kalimat atau ayat yang ummat membutuhkan penjelasan tentangnya. Hal ini banyak terjadi dalam ayat-ayat yang masih mujmal[3]/global, umum dan mutlaq maknanya maka sunnah/hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam lah yang menjelaskan keglobalan, keumuman dan memuqoyad[4]kan yang masih mutlaq[5]. Hal ini dapat saja terjadi melalui perkataan/sabda beliau shallallahu ‘alaihi was sallam, namun juga dapat terjadi pada perbuatan yang beliau lakukan dan persetujuan beliau terhadap suatu perkara. Demikianlah pentingnya sunnah/hadits bagi Al Qur’an.

Sekian kutipan perkataan beliau rohimahullah dengan sedikit diringkas.

Adalah sebuah hal yang amat jelas bahwa Allah ‘azza wa jalla menjamin keterjagaan Al Qur’an dalam firmanNya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Adz Dzikr dan Kami pulalah yang menjaganya”. (QS : Al Hijr [15] : 9).

Sebagaimana ayat dalam surat An Nahl ayat 44 di atas maka yang dimaksud dengan Adz Dzikr (الذِّكْرَ) dalam ayat ini juga Al Qur’an denga sepakat/ijma’ para ahli tafsir[6]. Dengan demikian jelaslah bahwa

jika Allah ‘azza wa jalla menjamin keterjagaan Al Qur’an maka pastilah Allah menjaga keterjagaan apa yang menjelaskan Al Qur’an yaitu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam baik itu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam yang berupa perkataan/sabda, perbuatan dan persetujuan beliau shallallahu ‘alaihi was sallam terhadap suatu urusan.

Allahu a’lam.

Ba’da Isya’, 7 Sya’ban 1431 H/ 19 Juli 2010 M,

Yang selalu lemah di hadapan Robbnya,

Aditya Budiman bin Usman As Sijambaliy

[1] Lihat Zaadul Masiir oleh Ibnul Jauziy rohimahullah (wafat 597 H/1201 M) hal. 96/IV, Asy Syamilah.

[2] Penjelasan ini kami ringkas dari kitab Manzilatus Sunnah fil Islam oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albaniy rohimahullah hal. 4-5, Asy Syamilah.

[3] Mujmal menurut istilah dalam ilmu ushul fiqh adalah perkara yang masih mengandung dua makna atau lebih dan tidak dapat dikuatkan salah satu dari dua kemungkinan makna atau lebih. [lihat Ma’alim Ushul fiqh ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh Syaikh Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jaizaniy hal 388, cetakan ke-7, terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh. Kitab ini merupakan Disertasi Beliaudi Universitas Islam Madinah].

[4] Muqoyyad adalah sebuah lafadz untuk makna hal tertentu-misal Muhammad- atau tidak tertentu namun ada shifat tambahan tertentu untuk menunjukkan hakikatnya ketercakupan jenisnya. [lihat Ma’alim Ushul fiqh ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh Syaikh Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jaizaniy hal 388]. Contohnya kalimat, “Berikan hadiah kepada Muhammad”, “Bebaskan seorang budak yang beriman”.

[5] Mutlaq adalah sebuah lafadz/kata dari suatu makna namun belum dapat ditentukan dengan meninjau ketercakupannya dalam suatu cakupan makna tertentu. [lihat Ma’alim Ushul fiqh ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh Syaikh Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jaizaniy hal 388] contohnya kalimat “Berikan 1 hadiah kepada seorang murid”, “Bebaskan seorang budak”.

[6] Lihat Zaadul Masiir oleh Ibnul Jauziy rohimahullah (wafat 597 H/1201 M) hal. 51/IV.

sumber ‬http://alhijroh.co.cc/aqidah/dia-adalah-sebuah-hal-yang-pasti-terjaga/

Minggu, 18 Juli 2010

Jika Mereka Takut padanya….

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jika Mereka Takut padanya….

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Sudah menjadi sebuah hal yang kita ketahui bersama bahwa ketakukan, harapan dan rasa cinta kita terhadap sesuatu tentu ada sebabnya. Sebagaimana seorang yang budak takut kepada tuannya yang mana rasa takutnya ini mengakibatkan dirinya mampu menahan diri dari melakukan perbuatan yang dibenci dan dilarang tuannya. Demikian juga harapan dan terlebih lagi cinta. Walaupun sebagian orang tidak memiliki alasan yang kuat tentang rasa takut yang di alaminya, semisal rasa takut yang dimiliki seseorang terhadap suasana gelap padahal ia di dalam tempat yang aman semisal rumahnya. Maka takut yang demikian ini adalah rasa takut yang tercela.

Namun ingin kami ketengahkan disini adalah takut terhadap suatu yang lebih besar dari pada kehilangan harta, istri, anak atau bahkan nyawa. Yang mana sebagaian kita terkadang demikian takutnya akan kehilangan hartanya, bahkan yang lebih sepele dari pada itu semisal takut tidak punya teman lagi gara-gara belajar agama, rasa takut ditinggal pacar[1] dan seterusnya…wal iyadzu billah !

Takut yang agung dan terpuji tersebut adalah takut akan terjatuh, tergelincir dalam perkara yang paling berbahaya bagi seorang hamba yaitu kesyirikan. Bagaimana tidak ku katakan demikian…bukankah dua Nabi yang juga merupakan rosul dan kekasih Allah ‘azza wa jalla demikian takutnya terhadap hal ini….!!

Tidakkah kita pernah membaca sebuah ayat dalam kitab yang tidak ada sedikitpun keraguan padanya yaitu Al Qur’an Al Karim ??!!! lihatlah do’a kholilullah/kekasih Allah Ibrohim ‘Alaihis Salam,

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آَمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Wahai Robbku jadikanlah negri ini negri yang aman dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah terhadap berhala (kemusyrikan)”. (QS : Ibrohim [14] : 35).

Maka lihatlah saudaraku betapa takutnya Nabi Allah sekaligus kekasih Allah Ibrohim ‘Alaihis Salam terjatuh dalam penyembahan terhadap berhala ! Padahal Beliau adalah beliau dalam masalah tauhid, ibadah dan ketundukannya kepada Allah !! Bukankah beliau dan istrinyalah yang beriman ketika itu dunia ini tanpa ada yang lain ?!! Walaupun demikian beliau masih berdo’a dengan do’a yang kita tentunya lebih layak untuk memintanya karena betapa kita jika dibandingkan dengan keimanan beliau akan Robb dan Ilahnya….beliau meminta kepada Allah,

(اجْنُبْنِي) “jauhkanlah aku”. Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alu Syaikh rohimahullah mengatakan, “(maksud do’a Nabi Ibrohim pent. adalah) jadikanlah diriku dan anakku di satu sisi dan menyembah berhala di sisi yang lain (جَانِب) serta jauhkanlah aku darinya”[2]. Tentang do’a Nabi Ibrohim ini Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah mengatakan,

“Do’a Nabi Ibrohim ini lebih dari sekedar perkataan cegahlah aku dari menyembah berhala karena yang namanya meminta dijadikan (جَانِب) darinya maka berati jarak antara dirinya dan sesuatu yang diminta agar dijadikan pada sisi yang lain adalah jarak yang jauh”[3].

Bukanlah do’a beliau ini sebagaimana do’a sebagaian kita yang hatinya lalai dari apa yang ia do’akan..sebagian kita mengucapkan sebuah do’a yang ia tidak paham apa yang ia do’akan tersebut…namun tidaklah demikian keadaan beliau Ibrohim ‘’alaihissalam, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang mereka pada Nabi,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka para Nabi[4] orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan keta’atan dan mereka berdoa kepada Kami dengan roghbah dan rohbah”. (QS : Al Anbiya’ [21] : 90).

Yang dimaksud rohbah (رَهَبًا) dalam ayat ini adalah rasa takut yang berbuah ingin lari dari suatu yang ditakutkan. Sedangkan yang dimakasud dengan roghbah (رَغَبًا) dalam ayat ini adalah permintaan dengan penuh ketundukan dan sepenuh hati bersamaan dengan keinginan yang besar agar tercapainya apa yang diminta atau dicintai tersebut[5].

Demikianlah ketakutan dan do’a yang ada pada diri beliau padahal beliau adalah seorang rosul bahkan termasuk rosul ulul azmi, bukankah Allah telah firmankan,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh benar-benar telah kami utus pada setiap ummat seorang rosul (untuk memerintahkan) sembahlah Allag semata dan jauhilah Toghut”. (QS : An Nahl [16] : 36).

Demikianlah firman Allah yang menegaskan kepada kita bahwa pemahaman dan pengamalan tentang tauhid kepada Allah yang dimiliki oleh setiap rosul. Meskipun demikian beliau tidaklah merasa aman dari ketergelinciran dalam kemusyrikan. Maka apakah layak kita mengatakan dan merasa tidak demilkian….?!! wahai jiwa dimanakah kedudukanmu dibandingkan dengan para Nabi dan Rosul ??!!!

Jika hal itu belum cukup membuat hatiku dan hatimu takut akan tergelincir dalam kesyirikan maka marilah kita masukkan dan renungkan serta kita camkan selalu pada diri kita tentang do’a yang diajarkan NNabi kita ummat Islam Muhammad bin Abdillah shollallahu ‘alaihi was sallam kepada manusia terbaik setelah para Nabi dan Rosul yaitu Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu yang beliau adalah beliau,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon perlindungan dari kepadaMu dari berbuat kemusyrikan kepadaMu pada saat aku tahu dan aku memohon ampunanMu atas dosa yang kuperbuat karena ketidaktahuanku[6]”[7].

Maka lihatlah apa yang dipanjatkan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi was sallam dalam do’anya…!! Maka pantaskah kita merasa aman, merasa diri kita tidak mungkin terjatuh dalam kemusyrikan sehingga enggan mempelajari tauhid dan syirik, merasa sudah puas dengan ilmu yang didapat dalam masalah tauhid dan syirk ??!!!

Kuwasiatkan juga pada dirimu wahai diriku dan kaum muslimin sekalian dengan perkataan seorang salaf yang bernama Ibrohim At Taimiy rohimahullah yang beliau wafat pada 192 Hijriyah ketika mengomentari do’a Nabi Ibrohim alaihis salam,

مَنْ يَأْمَنُ مِنَ الْبَلَاء بَعْدَ إِبْرَهِيْمَ ؟!

“Diri Siapakah yang Merasa Aman dari Bala’/syirik setalah (demikian keadaan Ibrohim) ?![8]”

selengkapnya silkan lihat ‬http://alhijroh.co.cc/aqidah/jika-mereka-takut-padanya/

Jumat, 25 Juni 2010

Sungguh telah Benar firman Allah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Beberapa hari atau bulan yang lalu kita melihat di berbagai betapa sebagaian orang rela mati untuk membela sebuah makam yang katanya makam orang yang sholeh, bahkan kita saksikan juga betapa banyak kaum muslimin yang rela berjibaku untuk mempertahankannya bahkan hingga nyawanya pun melayang. Maka melihat peristiwa yang demikian itu hati ini menjadi miris, betapa tidak mereka rela mati hanya untuk mempertahankan makam seseorang yang belum tentu ada hubungan kekerabatan yang erat dengan mereka. Mengapa hati ini miris ? Tak lain dan tak bukan adalah karena jika makam yang digusur adalah makam orang tua mereka maka Allahu A’lam mungkin belum tentu mereka melakukan hal yang sama.

Begitulah salah satu fenomena beragama sebagian ummat islam bangsa ini, bukanlah aku ingin menjelek-jelekan bangsa sendiri akan tetapi itulah wajah cara beragama sebagian kita. Namun sebagai seorang muslim maka tatkala membaca sebuah firman Allah dalam kitabNya hati ini seolah berkata “Sungguh benar firman Allah Subahanahu wa Ta’ala”.

Tulisan ini bukanlah ingin menghakimi mereka akan tetapi untuk membuka mata kita bersama akan betapa sungguh-sungguh benar firman Allah Subahanahu wa Ta’ala. Firman Allah yang ku maksudkan adalah,

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang menjadikan auliya’ selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. (QS : Az Zumar [39] :3).

Dalam ayat ini Allah ‘Azza wa Jalla menyifati orang-orang yang melakukan kesyirikan dengan Allah katakan (وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ) “Dan orang-orang yang menjadikan auliya’ selain Allah”. Allah katakan bahwa mereka menjadikan sesembahan selain Allah sebagai auliya’ mereka. Jika kita lihat dari akar katanya maka auliya’ (أَوْلِيَاءَ) merupakan bentuk jama’ dari wali (الوَلِيُ) dan kata wali ini para ulama berselisih pendapat diambil dari kata apa,

diantara mereka ada yang mengatakan bahwa kata wali diambil dari kata walayah (الوَلَايَةُ) yang berarti lawan kata/antonym dari kata adawah (العَدَوَةُ) permusuhan, dan makna dasar dari kata walayah (الوَلَايَةُ) adalah kecintaan dan rasa kedekatan. Ada juga yang berpendapat bahwa wali disebut sebagai wali karena diantara bentuk walayah (الوَلَايَةُ) kecintaan adalah untuk menta’atinya yaitu mengikutinya/ittiba’ padanya. Diantara dua pendapat ini pendapat pertamalah yang dinilai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang lebih benar yaitu, kecintaan dan rasa kedekatan[1].

Maka lihatlah saudaraku betapa sungguh benar-benar benar apa yang diberitakan Allah kepada kita, dan Allahu A’lam inilah sebab mengapa mereka rela mati demi mempertahankan kuburan wali-wali mereka yaitu karena kecintaan mereka dan rasa kedekatan mereka pada wali-wali tersebut yang mereka sangka dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Ketahuilah kaum muslimin yang semoga senantiasa diberi petunjuk oleh Allah ‘azza wa jalla bahwa inilah salah satu alasan kaum musyrikin di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam yang beliau dan para sahabatnya diperintahkan untuk memerangi mereka[2]. Allahul Musta’an.

Hamba yang Lemah

Aditya Budiman

sumber http://alhijroh.co.cc/aqidah/sungguh-telah-benar-firman-allah/

Metode Al Qur'an dalam Penetapan Kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kaidah Ketujuh

Metode Al Qur’an dalam Penetapan Kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam

Kaidah ini merupakan kaidah yang sangat agung yang allloh shallallahu ‘alaihi was sallam menetapkannya dalam KitabNya dengan berbagai metode yang sehingga dengannya dapat diketahui kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam secara sempurna. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam membenarkan para rasul sebelumnya, menyerukan apa yang diserukan para rasul sebelumnya. Demikian juga seluruh kebaikan yang ada pada rosul terdahulu maka hal itu terkumpul dalam diri Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam demikian juga seluruh sifat buruk dan sifat yang kurang mulia/ sifat yang naqis yang para Nabi tersucikan darinya maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam adalah orang yang paling awal dan paling layak tersucikan dari sifat-sifat tersebut. Demikian juga Allah beritakan bahwasanya syari’at yang beliau shallallahu ‘alaihi was sallam bawa merupakan syari’at yang menghakimi syari’at terdahulu dan kitab yang Beliau bawa adalah kitab yang menghakimi kitab-kitab sebelumnya. Maka semua kebaikan dalam agama-agama dan dalam kitab-kitab terdahulu telah terkumpul dalam agama ini (islam, pent.) dan kitab ini (Al Qur’an, pent.). Bahkan agama dan kitab yang beliau bawa merupakan yang tertinggi dengan kebaikan-kebaikan dan sifat-sifat yang belum terdapat dalam kitab-kitab dan agama-agama sebelumnya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan bahwasanya Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam adalah benar-benar NabiNya dengan Allah jadikan Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam sebagai orang yang tidak bisa membaca dan menulis dan tidak pernah duduk untuk belajar kitab terdahulu dengan seorang ahli ilmu. Bahkan manusia tidaklah dikagetkan sampai datangnya Beliau dengan membawa Al Qur’an yang seandainya manusia dan jin bersatu untuk mendatangkannya dengan yang semisal, bahkan hal itu di luar kemampuan mereka walaupun mereka saling tolong menolong untuk melakukannya. Sesungguhnya hal tersebut adalah suatu hal yang mustahil jika Al Qur’an itu adalah buatan Beliau sendiri atau Beliau berani mencatut nama Allah (tanpa ada wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala pent.)atau salah sangka dengan wahyu yang datang pada Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam, Allah ‘azza wa jalla mengulang-ulang metode ini dan menampakkannya dalam Al Qur’an. Allah ‘azza wa jalla juga menetapkan kerasulan Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam dengan Beliau dapat mengabarkan kisah-kisah para Nabi yang terdahulu sebagaimana yang sebenarnya secara panjang lebar yang kabar tersebut tidak ada ada seorangpun yang meragukannya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan bahwasanya tiada cara bagi Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam untuk mendapatkan berita tersebut kecuali wahyu dari Allah ‘azza wa jalla sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan kisah Nabi Musa ‘Alahis Salam secara panjang lebar,

وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الطُّورِ إِذْ نَادَيْنَا وَلَكِنْ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ مِنْ قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi yang sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan tiada pula kamu termasuk orang-orang yang menyaksikan”. ( Al Qoshosh [28]: 44).

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

“Padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa”. (Ali Imron [3] : 44).

Demikian juga ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kisah Nabi Yusuf dan Saudaranya secara panjang lebar, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ذَلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ

“Demikian itu (adalah) di antara berita-berita yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya”. (Yusuf [12] : 102).

Maka hal ini merupakan perkara-perkara, berita-berita yang terperinci yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakannya secara terperinci yang tidaklah mungkin ahlul kitab pada zamannya dan setelahnya untuk mendustakannya. Dan hal ini tidaklah ada pertentangan bahwa hal ini merupakan bukti terbesar bahwasanya Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam adalah benar-benar utusan Allah ‘azza wa jalla.
selengakapnya silakan buka link berikut
http://alhijroh.co.cc/aqidah/kaidah-ketujuh-metode-al-quran-dalam-penetapan-kenabian-muhammad-shallallahu-‘alaihi-was-sallam/

Senin, 24 Mei 2010

Namanya, Menunjukkan Dahsyatnya

Para Pembaca, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melimpahkan hidayah ilmu dan hidayah amal kepada kita. Hari qiyamat merupakan sebuah hal yang diakui oleh akal dan fitroh manusia, demikian juga ia merupakan hal yang dijelaskan oleh kitab suci yang Allah 'azza wa jalla turunkan (kitab samawiyah). Ia juga merupakan hal yang didakwahkan para Nabi dan Rosul ‘alaihimush sholatu was salam .
Demikian menjadi sebuah keharusan bagi kaum mukminin untuk mengimani hari qiyamat bahkan ia adalah salah satu rukun iman yang disebutkan dalam hadits yang amat terkenal, yaitu hadits Jibril ‘alaihis salam ketika beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam tentang islam, iman ihsan dan hari akhir,
قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِيمَانِ. قَالَ « أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ». قَالَ صَدَقْتَ.
Jibril bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam, “Beritahukanlah aku apa itu iman?” Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menjawab, “(Iman adalah) Engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para utusanNya, hari akhir (qiyamat) dan engkau beriman pada qodho’ dan qodar yang baik dan buruk” .
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyebutkan demikian banyak nama hari qiyamat untuk menunjukkan betapa agung/tingginya perkara tersebut sebagai peringatan kepada para hambaNya agar mereka takut akan datangnya hari tersebut . Tentu saja takut yang dimaksudkan di sini adalah takut yang berbuah amal.
Maka untuk menambah pengetahuan kita akan hal yang amat penting ini kami nukilkan sebagian nama-nama hari qiyamat beserta dalilnya dan alasan yang dikemukan para ulama mengapa hari tersebut dinamakan dengan nama tersebut. Dengan harapan akan menambah iman kita dengan bertambahnya ilmu kita tentangnya dan amal kita untuk bertemu dengannya.
Diantara nama-nama hari qiyamat adalah :
[1.] As Sa’ah (السَاعَةُ ), dalilnya adalah firman Allah 'Azza wa Jalla ,
إِنَّ السَّاعَةَ لَآَتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya As Sa’ah (السَاعَةُ ) yaitu hari qiyamat benar-benar akan terjadi, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman terhadapnya. (QS : Al Mukmin [40] :59).
Hari qiyamat disebut As Sa’ah (السَاعَةُ ) karena singkat/cepatnya waktu terjadinya hisab pada hari itu atau karena hari qiyamat mandatangi manusia dengan tiba-tiba, ketika itu mahluk mati hanya dengan sekali tiupan (sangkakala) .
[2.] Yaumul Ba’tsi (يَوْمُ الْبَعْثِ) yaitu Hari Bangkit, dalilnya adalah firman Allah 'Azza wa Jalla ,
لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit. Maka inilah Yaumul Ba’tsi (يَوْمُ الْبَعْثِ)/hari berbangkit itu yaitu hari qiyamat akan tetapi kamu tidak meyakininya”. (QS : Ar Ruum [30] :56).
Hari qiyamat disebut Yaumul Ba’tsi (يَوْمُ الْبَعْثِ) karena pada hari itu dibangkitan dan dihidupkan kembali (mahluk Allah) setelah sebelumnya mati .
[3.] Yaumud Diin (يَوْمُ الْدِيْنِ) yaitu hari pembalasan, dalilnya adalah firman Allah 'Azza wa Jalla ,
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Dialah Allah Dzat yang menguasai Yaumud Diin (يَوْمُ الْدِيْنِ)/hari pembalasan, yaitu hari qiyamat ”. (QS : Al Fatihah [1] : 3).
Hari qiyamat disebut Yaumud Diin (يَوْمُ الْدِيْنِ) karena pada hari itu manusia diberi balasan atas amal perbuatan mereka .
[4.] Yaumul Hasroh (يَوْمُ الْحَسْرَةِ) yaitu hari penyesalan, dalilnya adalah firman Allah 'Azza wa Jalla ,
وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ
“Dan peringatkanlah mereka akan Yaumul Hasroh (يَوْمُ الْحَسْرَةِ)/hari penyesalan yaitu hari qiyamat ”. (QS : Maryam [19] : 39).
Hari qiyamat disebut Yaumul Hasroh (يَوْمُ الْحَسْرَةِ) karena hari tersebut merupakan hari penyesalan/kesedihan orang-orang kafir . Ada juga yang mengatakan disebut Yaumul Hasroh (يَوْمُ الْحَسْرَةِ) karena pada hari tersebut orang yang melakukan kejelekan menyesal/bersedih mengapa dahulu mereka ketika di dunia tidak melakukan kebaikan .
[5.] Darul Akhiroh (دَارُ الْأَخِيْرَةِ) yaitu negri/kampung akhirat, dalilnya adalah firman Allah Subahanahu wa Ta'ala,
وَإِنَّ الدَّارَ الْآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan sesungguhnya Darul Akhiroh (دَارُ الْأَخِيْرَةِ) negri/kampung akhirat yaitu hari qiyamat itu kehidupan yang sebenarnya”. (QS : Al Ankabut [29] : 64).
Hari qiyamat disebut Darul Akhiroh (دَارُ الْأَخِيْرَةِ) yaitu negri/kampung akhirat karena negri/kampung akhirat tersebut ada setelah negri/kampung dunia, ia adalah negri/kampung yang kekal yang tidak ada negri/kampung setelahnya .
[6.] Yaumut Tanaad (يَوْمُ التَّنَادِ) yaitu hari saling memanggil, dalilnya adalah firman Allah Subahanahu wa Ta'ala,
إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِ
“Seseungguhnya aku (Musa) takut akan siksaan bagi kalian pada Yaumut Tanaad (يَوْمُ التَّنَادِ)/hari panggil memanggil yaitu hari qiyamat ”. (QS : Al Mukmin [40]: 32).
Hari qiyamat disebut sebagai Yaumut Tanaad (يَوْمُ التَّنَادِ) yaitu hari saling memanggil karena pada hari itu setiap manusia akan memanggil para pemimpin mereka, pendapat lain mengatakan disebut demikian karena pada hari itu para penduduk Al A’rof (yaitu sebuah tempat antara surga dan neraka atau tempat amal baik dan buruk) , pendapat lain lagi mengatakan disebut demikian karena pada hari itu ahli surga akan memanggil ahli neraka dan sebaliknya, demikian juga adanya panggilan keberhasilan/kebahagian bagi pemiliknya dan panggilan kesengsaraan bagi pemiliknya .
lihat selengapnya di http://alhijroh.co.cc/aqidah/namanya-menunjukkan-dahsyatnya/

Rabu, 19 Mei 2010

Nasib Anak Kecil di Dunia dan Akhirat

yaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah pernah ditanya,

Dimanakah tempat kembali anak-anak (yang orang tua mereka mukmin pent.) dan anak-anak (yang orang tua mereka kafir pent.) jika mereka meninggal ketika masih kecil ?

Beliau rohimahullah menjawab,

“Tempat kembali anak-anak (yang orang tua mereka mukminpent.) adalah surga, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka[1], dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”. (QS : Ath Thur [52] : 21).

Adapun untuk anak-anak (yang orang tua mereka kafirpent.) yaitu anak-anak yang tumbuh berkembang dari orang tua yang bukan muslim maka jawaban yang paling benar (diantara perbedaan ulama’ dalam masalah ini pent.) adalah kita katakan Allahu A’lam (Allah-lah yang lebih tahu) mereka disikapi untuk hukum-hukum di dunia sebagaimana sikap kita terhadap orang tua mereka, adapun untuk hukum bagi mereka di akhirat maka Allahu A’lam (Allah-lah yang lebih tahu) sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam sabdakan[2], Allahu A’lam (Allah-lah yang lebih tahu) tentang tempat mereka (di akhirat), inilah yang dapat kami katakan. Adapun hukum mereka di dunia maka kita hukumi sebagaimana orang tua mereka jika mereka meninggal tidak kita mandikan, tidak dikafani, tidak disholatkan dan tidak dikuburkan di perkuburan kaum muslimin. Allahu A’lam”.

Diterjemahkan dengan peringkasan seperlunya oleh Aditya Budiman dari Kitab Fatawa Arkanil Islam oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah hal. 115-116, penyunting Syaikh Fahd bin Nashir As Sulaiman, terbitab Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.
[1] Maksudnya Allah kumpulkan mereka dengan orang tua mereka di surga sesuai dengan derajat orang tua mereka di surga walaupun mereka tidak beramal di dunia sebagai bentuk balasan dan pemulian kepada orang tua mereka. [lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilaini Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi dengan ta’liq dari Syaikh Shofiyurrohman Al Mubarokfuri hafidzahullah hal. 535 cet. Darus Salam, Riyadh, KSA, Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh Abdur Rohman bin Nashir As Sa’diy hal. 780, terbitan Dar Ibnu Rojab, Beirut, Lebanon dengan perubahan redaksi.]

[2] Teks haditsnya diriwayatkan Al Bukhori dalam Shohihnya no. 1384,

عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنِى عَطَاءُ بْنُ يَزِيدَ اللَّيْثِىُّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – يَقُولُ سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ ذَرَارِىِّ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ

Dari Az Zuhri, dia mengatakan, “Atho’ bin Yazid Al Laitsi telah menceritakan kepadaku bahwa dia mendengar Abu Huroiroh mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam pernah ditanya tentang (keadaan) keturunan orang-orang musyrik (di akhirat) beliau kemudian menjawab, “Allah- lah yang lebih tahu tentang apa yang akan terjadi pada mereka”.

Minggu, 16 Mei 2010

Ajaran Nabimu Jangan Kau Ejek

Pentingnya Menjaga Lisan dalam Islam

Lisan merupakan salah satu bagian tubuh manusia yang amat berharga, dan satu hal yang telah kita ketahui bersama bahwa islam adalah agama yang kaffah Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Wahai Orang-Orang yang beriman masuklah ke dalam islam secara kaffah/menyeluruh dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan karena sesungguhnya dia adalah musuh (kalian) yang nyata”. (QS : Al Baqoroh [2] : 208).
Seorang sahabat yang mulia sekaligus merupakan ahli tafsir dari kalangan sahabat Abdullah bin Abbas rodhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Yang dimaksud Kaffah (dalam ayat di atas) adalah masuklah kalian ke dalam ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam secara menyeluruh” . Jika hal ini telah kita fahami maka lihatlah betapa islam begitu memberikan perhatian yang besar terhadap lisan melalui sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata kata-kata yang baik atau ia diam” .
Al Imam An Nawawiy Asy Syafi’i rohimahullah mengatakan, “Makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam di atas adalah seseorang jika hendak bicara maka apabila hal yang akan di bicarakannya itu adalah kebaikan yang ia akan diberi pahala atasnya baik itu hal yang wajib atau sunnah maka hendaklah ia bicara, namun jika tidak demikian maka hendaklah ia menahan diri untuk tidak bicara baik hal yang akan dibicarakan itu adalah suatu perkara yang haram, makruh atau mubah yang berada diantara kedua ujung (antara halal dan haram). Maka berdasarkan hal ini perkataan yang hukumnya mubah dianjurkan untuk meninggalkannya dalam rangka agar tidak terjatuh dalam perkara yang haram atau makruh” . Namun sebagaimana dikatakan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah, perkataan yang baik itu ada dua macam perkataan yang baik jika [1] ditinjau semata-mata perkataan tersebut semisal dzikir kepada Allah dan membaca Al Qur'an dan [2] perkataan yang baik jika ditinjau dari apa yang diinginkan darinya semisal perkataan yang hukum asalnya mubah namun hal yang diinginkan dari perkataan tersebut adalah memberikan rasa gembira kepada teman duduk .

Mengejek, Mengolok-olok Perkara yang Merupakan Bagian dari Islam

Jika demikian perhatian islam dalam masalah lisan maka bagaimanakah hukum islam mengenai orang yang mengaku islam namun mengolok-ngolok sebuah bagian dari syari’at islam ?? Semisal perkataan seorang yang mengaku islam kepada saudaranya yang memelihara jenggot dengan sebutan si kambing dan orang yang mengaku muslim mengejek saudarinya yang menggunakan cadar dengan sebutan ninja, atau mengejek seorang muslimah yang memakai jilbab yang benar dengan mengatakan “Kemana-mana kok pakai baju sholat/mukenah” dan lain sebagainya. Maka marilah kita kembalikan perkara ini ke pada Al Qur'an dan As Sunnah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok?” “Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian telah kafir sesudah beriman”. (QS : At Taubah [9] : 65-66).
Ayat yang mulia di atas memiliki sababun nuzul, sebagaimana yang diriwayatkan melalui jalannya Abdullah bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma, “Ada seseorang yang berkata dengan nada mencemooh pada saat perang Tabuk, “Aku tidak pernah melihat orang yang perutnya lebih besar (rakus terhadap makanan ), lebih suka berbohong serta pengecut ketika bertemu musuh dalam perang dari pada ahli qiro’ah kami (yang dia maksudkan adalah Nabi shollallahu 'alaihi was sallam dan para sahabatnya rodhiyallahu ‘anhum )”. Maka berkatalah ‘Auf bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, “Engkau telah berdusta bahkan engkau adalah orang munafik, sungguh akan aku beritahukan hal ini kepada Rosulullah shollallahu 'alaihi was sallam”. Maka Auf pun pergi untuk menemui Nabi shollallahu 'alaihi was sallam namun ternyata Al Qur'an telah mendahuluinya. Abdullah bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Sesungguhnya kami melihat orang tersebut terseret-seret sambil memegang pelana unta Nabi shollallahu 'alaihi was sallam dan batu-batu melukainya seraya mengatakan, “Wahai Rosulullah sesungguhnya hal itu kami lakukan hanya untuk berbincang-bincang sekedar bergurau di perjalanan dan kami tidaklah bermaksud mengejek atau mengolok-olok”. Kemudian Nabi shollallahu 'alaihi was sallam membacakan firman Allah,
أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ
“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok?” (QS : At Taubah [9] : 65).

selengkapnya silakan lihat
http://alhijroh.co.cc/aqidah/ajaran-nabimu-jangan-kau-ejek/

Rabu, 21 April 2010

Metode Penetapan Tauhid dan Penafian/Peniadaan Kebalikannya dalam Al Qur'an

Kaidah Keenam
Metode Penetapan Tauhid dan Penafian/Peniadaan Kebalikannya dalam Al Qur'an

Isi Al Qur'an secara keseluruhan hampir-hampir merupakan penetapan terhadap tauhid dan penafian kebalikannya yaitu syirik. Allah 'azza wa jalla menetapkan tauhid uluhiyah dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah yang tidak ada sekutu baginya pada banyak ayat dalam Al Qur'an. Allah 'azza wa jalla juga mengabarkan bahwasanya seluruh utusan Allah menyerukan kepada kaumnya agar hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Sesungguhnya Allah 'azza wa jalla tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaNya–mentauhidkanNya, pent.-. Demikian juga seluruh rasul & kitab yang mereka bawa sepakat terhadap hal yang sangat dasar ini yang merupakan fondasi yang paling mendasar dari seluruh dasar. Barangsiapa yang tidak tunduk terhadap ajaran ini yaitu mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah maka seluruh amalannya adalah amalan yang bathil. Allah 'azza wa jalla berfirman,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
"Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah seluruh amalmu”.
(Az Zumar : 65).

Juga firman Allah 'azza wa jalla,

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (Al An’am : 88).

Allah Subhanahu wa Ta'ala menyerukan kepada hamba-hambanya agar menetapakan apa yang sesuai fitroh dan akal mereka yaitu, siapa yang Maha Esa dalam hal penciptaan, pengaturan, pemberi nikmat yang tampak dengan panca indra ataupun tidak maka tidaklah layak diibadahi kecuali hanya Dia. Sesungguhnya seluruh mahluk tidaklah ada pada mereka kemampuan untuk mencipta, memberikan kemanfaatan, mencegah marabahaya dan tidaklah mereka sanggup melakukan hal tersebut kecuali hanya Allah 'azza wa jalla semata. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyeru mahluk-mahluknya kepada hal yang mendasar ini dengan cara memuji Dirinya yang Maha Mulia yang Dialah satu-satunya Dzat yang memiliki keesaan dengan berbagai sifatNya yang agung, mulia dan sempurna. Sesungguhnya Dzat hanya ada padaNya kesempurnaan mutlak yang tidak ada tandingan baginya adalah Dzat yang paling berhak/layak untuk diikhlaskan/dimurnikan seluruh amalan kapadaNya baik yang terlihat ataupun yang tersembunyi. Allah menetapkan baginya tauhid ini baginya bahwasanya Dia adalah satu-satunya yang berhak menetapkan hukum. Maka janganlah seseorang menjadikan selain Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai hakim, baik itu hukum syar’i ataupun hukum yang berkiatan dengan balasan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ

“Keputusan/hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia”. (Yusuf : 40).

Terkadang Allah menetapkan tauhid ini dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan tauhid bahwasanya itulah agama yang satu yang wajib secara syar’i, akal dan fitroh terhadap semua hamba dan Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menyebutkan kejelekan-kejelekan syirik, keburukannya dan hilang/rusaknyanya akal sehat , agama, terbaliknya hati, kebimbangan hati dan kacaunya keadaan hati orang yang melakukan kesyirikan.

Terkadang Allah 'azza wa jalla menyerukan tauhid dengan menyebutkan balasan yang baik di dunia maupun di akhirat yang Allah kaitkan dengan tauhid serta kehidupan yang baik dalam tiga alam . Terkadang Allah juga menyebutkan kebalikannya yaitu syirik dengan balasan/akibat buruk yang Allah segerakan di dunia dan Allah tunda di akhirat bagi para pelakunya. Demikianlah Allah gambarkan keadaan mereka dengan sejelek-jelek akibat & keadaan.

Ringkasnya semua kebaikan yang disegerakan di dunia dan tertunda di akhirat maka sesungguhnya hal itu adalah buah dari tauhid. Demikian juga semual keburukan yang disegerakan di dunia dan tertunda di akhirat maka sesungguhnya itu merupakan buah dari kebalikannya yaitu syirik. Allahu A’lam.


Diterjemahkan Oleh Seorang Hamba yang Lemah, Yang Sangat Membutuhkan Ampunan RobbNya,


Aditya Budiman

selengkapnya lihat http://alhijroh.co.cc/aqidah/kaidah-keenam-metode-penetapan-tauhid-dan-penafianpeniadaan-kebalikannya-dalam-al-quran/

Syarat Diterimanya Ibadah

badah merupakan sebuah kata yang amat sering terdengar di kalangan kaum muslimin, bahkan mungkin bisa kita pastikan tidaklah seorang muslim kecuali pernah mendengarnya. Lebih jauh lagi, ibadah merupakan tujuan diciptakannya seluruh jin dan seluruh manusia, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu“.

(QS : Adz Dzariyat [51] :56).

Namun telah tahukah kita bahwa ibadah memiliki syarat agar ibadah tersebut diterima di sisi Allah sebagai amal sholeh dan bukan amal yang salah ?? Dua syarat dalam ibadah itu adalah berniat ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan meniru/ittiba’ kepada Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam[1]. Untuk itulah mari sejenak kita luangkan beberapa gilintir waktu kita untuk mempelajarinya lewat tulisan singkat ini.



Dalil Dua Syarat Diterimanya Ibadah

Dua syarat ibadah ini bukanlah suatu yang dibuat-buat oleh para ‘ulama semata-mata berdasar akal mereka melainkan dua syarat ini telah Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan dalam firmanNya di ayat terakhir surat Al Kahfi dalam satu kesempatan sekaligus,

أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Sesunggunya Sesembahan kalian adalah sesembahan yang esa, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Robbnya maka hendaklah ia beramal ibadah dengan amalan yang sholeh dan tidak menyekutukan Robbnya dalam amal ibadahnya dengan suatu apapun“.

(QS : Al Kahfi [18] : 110).

Ibnu Katsir Asy Syafi’i rohimahullah seorang pakar tafsir yang tidak diragukan lagi keilmuannya mengatakan, “Firman Allah (فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ) “barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Robbnya” maksudnya adalah (barangsiapa yang berharap padapent.) pahala dan balasanNya (yang mana hal ini merupakan salah satu bentuk niat yang ikhlas kepada Allah dalam beribadahpent.), (فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا) “hendaklah ia beramal ibadah dengan amalan yang sholeh” maksudnya adalah (amalan ibadahpent) yang sesuai dengan syari’at Allah”, (وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا) “tidak menyekutukan Robbnya dalam amal ibadahnya dengan suatu apapun” maksudnya adalah suatu yang diinginkan dari amal ibadah tersebut (hanyalah) wajah Allah semata dan tidak menyekutukanNya. Kemudian beliau mengatakan,

“Dua hal ini merupakan dua rukun (syaratpent) diterimanya amal ibadah, (amal ibadahpent) haruslah berupa ibadah yang ikhlas untuk Allah dan benar yaitu mencocoki/sesuai syari’at Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam”[2].

Dalil lainnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dzat Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amal ibadahnya”.(QS : Al Mulk [67] : 2).

Fudhail bin ‘Iyaad rohimahullah seorang Tabi’in yang agung mengatakan ketika menafsirkan firman Allah, (أَحْسَنُ عَمَلًا) “amal ibadahnya” maksudnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar. Kemudian beliau rohimahullah mengatakan, “Sesungguhnya jika sebuah amal yang ikhlas namun bukan amal yang benar maka ibadah tersebut tidak akan diterima, demikian juga jika amal tersebut benar namun tidak ikhlas maka tidak akan diterima sampai ibadah tersebut adalah ibadah yang ikhlas dan benar. Beliau rohimahullah mengatakan, “Ikhlas maksudnya jika amalan tersebut karena/untuk Allah dan benar maksudnya jika amalan tersebut di atas sunnah (Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam)”[3].

Adapun dalil dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam untuk syarat pertama adalah hadits yang diriwayatkan melalui jalan Amirul Mu’minin yang pertama Umar bin Khottob rodhiyallahu ‘anhu,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijroh karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita, pent.)”.[4]

selanjutnya silakan lihat di http://alhijroh.co.cc/aqidah/syarat-diterimanya-ibadah/

Rabu, 14 April 2010

4 Jenis 'Athof dalam Al Qur'an dan Sunnah

Pembaca yang semoga dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala pada kesempatan kali ini kita akan kembali mencoba menggali kaidah-kaidah ushul/dasar yang disampaikan para ulama untuk memamahi Al Qur'an dan Sunnah secara benar. Diantara kaidah yang disampaikan oleh para ulama adalah kaidah dalam memahami ‘athof dalam nash syari’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyampaikan ada 4 jenis athof dalam Al Qur'an dan sunnah ,
[1]. Athof Dua Kata Atau Lebih yang Berbeda Maknanya.
Ahtof jenis ini merupakan athof yang paling tinggi derajatnya karena menggandengkan 2 hal yang berbeda dalam artian makna satu kata (‘athof) tidak sama dengan makna kata yang lain (ma’thuf ‘alaih/kata yang di’athofkan padanya). Contohnya adalah firman Allah 'azza wa jalla,
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
“Dzat Yang Menciptakan langit dan bumi”. (QS : Al Furqon [25] : 59).
Maka berarti bahwa (السَّمَاوَاتِ) langit bukanlah (الْأَرْضَ) bumi. Contoh yang lain adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ
“Dzat Yang Menurunkan Taurot dan Injil”. (QS : Ali ‘Imron [3] : 3).
Sehingga (التَّوْرَاةَ) taurot bukanlah (الْإِنْجِيلَ) Injil demikian sebaliknya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah mengatakan, “ ‘Athof jenis pertama inilah yang paling banyak (dalam Al Qur'an dan Sunnah pent.)”.
[2]. Athof Dua Atau Lebih yang Memiliki Hubungan Keterkaitan yang Erat.
Contoh ‘athof jenis ke dua ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ
“Barangsiapa yang ingkar/kufur terhadap Allah, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Para UtusanNya dan Hari Akhir”. (QS : An Nisa’ [4] : 136).
Maka dengan mengetahui athof jenis ini kita bisa simpulkan bahwa barangsiapa yang ingkar/kufur terhadap Allah maka sungguh ia telah ingkar/kufur kepada kata yang setelahnya yaitu Malaikat-MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Para UtusanNya dan Hari Akhir. Contoh lainnya adalah firman Allah 'azza wa jalla,
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِين
“Barangsiapa yang menentang Rosul setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin ”. (QS : An Nisa’ [4] : 115).
Maka berdasarkan kaidah yang amat agung ini kita dapat mengambil kesimpulan yang amat penting pula bahwa barangsiapa yang menentang Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam (baik itu apa yang beliau perintahkan atau yang beliau larang pent.) maka berarti ia telah keluar jalannya para sahabat rodhiyallahu ‘anhum. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Para ‘ulama mengatakan, “Barangsiapa yang tidak mengkuti jalan para sahabat maka berarti ia telah mengikuti jalan selain mereka, mereka (para ulama) menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa mengikuti jalan beragama para sahabat adalah sebuah perkara wajib dan tidaklah boleh seseorang keluar dari perkara agama yang mereka ijma’/sepakat terhadapnya” . Contoh berharga lainnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Janganlah kalian mencampurkan antara kebenaran dan kebathilan dan menyembunyikan kebenaran padahal kalian telah mengetahuinya”. (QS : Al Baqoroh [2] : 42).
Dari ayat yang mulia dan kaidah ini maka kita dapat menyimpulkan bahwa barangsiapa yang mencampur adukkan antara kebenaran dan kebathilan maka ia akan menyembunyikan kebenaran sebanding dengan apa yang ia lakukan berupa pencampur adukan antara kebenaran dan kebathilan. Sehingga demikianlah apa yang telah dilakukan oleh ahlu kitab (yahudi dan nashrani) mereka menyembunyikan kebenaran yang datang dari Allah maka pastilah mereka telah menampakkan kebathilan sebanding dengan apa yang mereka sembunyikan berupa kebenaran. Misalnya mereka menggati/menyembunyikan hukum Allah untuk mereka bagi pelaku zina baik yang sudah menikah atau belum adalah dirajam (dilempari dengan batu hingga mati) dengan mencoret-coret wajahnya kemudian di arak keliling perkampungan. Demikian juga barangsiapa yang melakukan bid’ah dan mendakwahkannya maka berarti ia telah menyembunyikan sunnah yang sebanding dengan bid’ah yang ia kerjakan dan dakwahkan, sampai-sampai seorang tabi’in Hasan bin Athiyah mengatakan,
مَا أَحْدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلاَّ رُفِعَ مِثْلُهَا مِنَ السُّنَّةِ
“Tidaklah suatu kaum mengadakan suatu kebid’ahan kecuali akan hilang sunnah (Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam pent.) yang semisal dengan bid’ah tersebut”.
Maka lihatlah wahai saudaraku betapa mengerikannya betapa buruknya bid’ah dan dampaknya di mata generasi utama dalam ummat ini.
[3]. Athof Dua Kata Atau Lebih yang Salah Satunya Merupakan Bagian yang Lain.
Contoh penerapan kaidah ini sebagaimana firman Allah 'azza wa jalla,
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى
“Jagalah Sholat Lima Waktu dan Sholat Pertengahan (yaitu sholat Ashar) ”.
(QS : Al Baqoroh [2] : 238).
Maka dalam ayat ini Allah athofkan sholat ashar kepada sholat lima waktu bersamaan dengan itu dalam kata-kata sholat ashar telah masuk dalam sholat lima waktu. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin mengatakan, “Hal tersebut menunjukkan keutamaan sholat ashar dibandingkan sholat yang lain karena Allah sebutkan secara khusus setelah Allah sebutkan secara umum dengan kata sholat lima waktu” .
Demikian juga dalam firman Allah Subahanahu wa Ta'ala,
وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ
“Ketika Kami (Allah) mengambil perjanjian kalian dari para Nabi, dari dirimu wahai Muhammad, dari Nuh, dari Ibrohim, dari Musa dan dari ‘Isa bin Maryam”.
(QS : Al Ahzab [33] : 7).
Dalam ayat ini Allah sebutkan Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi was sallam, Nabi Nuh, Nabi Ibrohim, Nabi Musa dan Nabi ‘Isa ‘alaihimussalam padahal mereka telah masuk dalam kata-kata para Nabi hal ini menunjukkan keutamaan mereka yang merupakan Rosul Ulul Azmi.
[4]. Athof Dua Kata Atau Lebih Karena Adanya Perbedaan Shifat Keduanya.
Contoh penerapan kaidah ini adalah firman Allah Subahanahu wa Ta'ala,
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى . الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى . وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى . وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَى
“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi. Yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaanNya). Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk. Yang menumbuhkan rumput-rumputan”.
(QS : Al A’la [87] : 1-4).
Maka Robb kita adalah Allah Yang Maha Menciptakan, Yang Maha Meyempurnakan penciptanyaanNya, Yang Maha Menentukan kadar, Yang Maha Memberi petunjuk, dan Yang Maha mengeluarkan rerumputan. Hal ini Allah sebutkan sendiri karena berbedanya shifat yang terkandung di dalamnya .


lihat selengkapnya di http://alhijroh.co.cc/aqidah/4-jenis-%E2%80%98athof-dalam-al-quran-dan-sunnah/

Mentauhidkan Allah Tetapi Musyrik

Mentauhidkan Allah Tetapi Musyrik
Pendahuluan
Tauhid merupakan sebuah kata yang sangat tidak asing di telinga kita kaum muslimin bahkan mungkin di tengah-tengah orang kafir juga hal ini tidak asing. Namun tauhid apakah yang diinginkan Allah 'azza wa jalla dan NabiNya shallallahu ‘alaihi was sallam ? Maka marilah merapat kepadaku wahai saudaraku barang sejenak kita telaah apa yang dikatakan para ulama tentangnya.
Pengertian Tauhid
Tauhid secara bahasa arab merupakan mashdar (kata benda yang berasal dari kata kerja) dari kata (تَوْحِيْدًا- يُوَحِّدُ-وَحَّدَ) yang artinya menjadikan sesuatu satu tauhid ini tidaklah dikatakan sebagai tauhid sampai terdapat padanya peniadaan selainnya (secara mutlaqpent.) dan penetapan . Sedangkan pengertian tauhid sebagai perbuatan hati adalah beriman tentang adanya Allah, mengesakan Allah dalam hal rububiyah, ulihiyah dan beriman terhadap seluruh nama dan shifat Allah . Kemudian pengertian tauhid secara cabang ilmu adalah hal-hal yang berhubungan dengan aqidah seorang muslim karena inti aqidah adalah tauhid , namun aqidah lebih luas dari pada tauhid . Adapun secara istilah maka tauhid artinya adalah mengesakan Allah 'Azza wa Jalla terhadap seluruh perkara yang merupakan kekhusuan Allah. Sedangkan pengertian secara syar’i adalah menunggalkan Allah dalam hal uluhiyah Allah, sebagaimana hadits Nabi shollallahu 'alaihi was sallam,
إِنَّكَ سَتَأْتِى قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ....


“Sesungguhnya engkau nanti wahai mu’adz akan bertemu dengan sebuah kaum dari Ahli Kitab, jika engkau bertemu mereka maka ajaklah mereka untuk bersyahadat bahwa Tiada Sesembahan yang Berhak disembah kecuali Allah dan Aku (Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi was sallam) adalah Rosulullah….” .
Dalam lafadz yang lain dari hadits ini,
إِنَّكَ سَتَأْتِى عَلَى نَّاسِ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَادْعُهُمْ إِلَى التَّوْحِيْد
“Sesungguhnya engkau nanti wahai Mu’adz akan bertemu dengan sekelompok orang dari kalangan Ahli Kitab, maka ajak mereka kepada tauhid” .
Sisi pendalilannya adalah pada lafadz yang pertama Nabi shollallahu 'alaihi was sallam katakan kepada Mu’adz hal pertama kali yang didakwahkan adalah 2 kalimat syahadat dan pada lafadz yang kedua Nabi shollallahu 'alaihi was sallam mengatakan kepada Mu’adz untuk mendakwahkan tauhid sehingga secara syar’i yang dimaksud dengan tauhid adalah syahadatain. Maka demikianlah makna tauhid secara ringkas.
Macam-Macam Tauhid
Adapun macam-macam tauhid, berdasarkan penelitian yang dilakukan para ulama, maka mereka membagi tauhid menjadi tiga macam yaitu,
1. Tauhid Rububiyah
Tauhid Rububiyah adalah ikrar/pengakuan bahwasanya Allah adalah satu-satunya Dzat Pencipta alam semesta, Dzat yang mengaturnya, Dzat yang menghidupkan dan mematikan mahlukNya, Dzat yang member rizki, Dzat yang Memilki seluruh kekuatan . Ada juga ulama yang memberikan defenisi untuk tauhid ini dengan pengertian pengesaan Allah 'Azza wa Jalla adalah satu-satunya Pencipta, Pemilik, dan Pengatur (alam semestapent.) . Namun pengertian yang lebih menyeluruh adalah pengertian yang disampaikan oleh Syaikh Prof. DR. Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin hafidzahullah, beliau mengatakan, “Tauhid rububiyah adalah iman terhadap adanya Allah dan meyakini keesaanNya dalam semua perbutanNya”. Kemudian beliau melanjutkan, “Tauhid jenis ini tidaklah lepas dari dua perkara,
• Iman terhadap adanya Allah
• Ikrar/pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, Dialah Pemilik segala sesuatu, Dialah Dzat yang memberi rizki, Dialah Dzat yang menghidupkan dan mematikan, Dialah Dzat yang dapat memberikan kemanfaatan dan kemudhorotan, Dialah Dzat yang mengabulkan do’a, Dialah Dzat yang kepadaNya kembali segala urusan, Dialah Dzat yang di tanganNya lah segala kebaikan, Dialah Dzat yang kuasa atas segala sesuatu, Dialah Dzat yang menakdirkan segala perkara, Dialah Dzat yang mengatur semua urusan, Dialah Dzat yang tidak ada sekutu bagiNya atas semua hal di atas” .
Dalil akan adanya tauhid uluhiyah adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji yang diiringini dengan kecintaan dan pengagungan hanya milik Allah Rob Semesta Alam”. (QS : Al Fatihah [1] :1).
Demikian juga firman Allah 'azza wa jalla,
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
“Sesungguhnya Rob kalian adalah Rob yang menciptakan langit dan bumi”. (QS : Al A’rof [7] :45).
Demikian juga firman Robbuna 'azza wa jalla,
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
“Bukankah milik Allah seluruh mahluk dan seluruh ketentuan ”. (QS : Al A’rof [7] :45).
Dan nash-nash lain yang terdapat dalam Al Qur'an dan As Sunnah yang disana terdapat kata Rob (رَبِّ) atau disebutkan kekhususan rububiyah Allah semisal Pencipta, Pemberi rizki, Pemilik segala sesuatu, Pengatur dan lain sebagainya maka nash tersebut adalah dalil yang menunjukkan Rububiyah Allah..........
silahkan lihat link berikut untuk masuk ke isi tulisan ini
http://alhijroh.co.cc/aqidah/menatauhidkan-allah-tetapi-musyrik/

Ilmu Dunia atau Akhirat

Ilmu dalam Al Qur’an, Hadits dan Para Ulama
Ilmu merupakan sebuah hal yang sangat berharga bagi setiap orang. Demikian juga halnya dalam agama yang mulia ini ilmu memiliki kedudukan yang amat tinggi, dalam Al Qur'an Allah Subhanahu wa Ta'ala,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah Subhanahu wa Ta'ala akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat".
(QS : Al Mujadalah [58] :11).
Demikian juga dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,
إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham melainkan mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang besar” .

Demikian juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi was sallam,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah inginkan padanya seluruh kebaikan maka Allah akan jadikan ia faham terhadap urusan agamanya” .
Demikian juga di mata para ulama, ilmu memiliki kedudukan yang istimewa diantaranya adalah bagi syaikhnya para ahli hadits, Imam Bukhoriy rohimahullah, hal ini terbukti karena beliau rohimahullah membuat satu kitab dalam kitab shohihnya yang berjudul Kitabul ‘Ilmi yang beliau letakkan setelah Kitabul Iman . Demikian juga ulama yang lainnya. Akan tetapi apakah kita telah tahu apakah ilmu yang Allah 'Azza wa Jalla dan NabiNya shollallahu 'alaihi was sallam katakan ??!! Oleh karena itu marilah kita pelajari barang sejenak. Karena terkadang orang sering salah paham menggunakan dalil-dalil berupa Al Qur'an dan Sunnah dalam masalah keutamaan ilmu.
Pengertian Ilmu dalam Dalil-Dalil Al Qur'an dan Sunnah
Kebanyakan orang terutama mereka yang hidup di lingkungan akademik perkuliahan ilmu umum memiliki anggapan bahwa ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta'ala puji pemiliknya dengan Allah 'azza wa jalla naikkan derajat mereka beberapa derajat termasuk di dalamnya adalah ilmu-ilmu umum. Padahal tidakah demikian, ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta'ala maksudkan adalah ilmu agama, ilmu syar’i. Hal ini berdalilkan kejadian yang terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,
مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ « لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ ». قَالَ فَخَرَجَ شِيصًا فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ « مَا لِنَخْلِكُمْ ». قَالُوا قُلْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ « أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ ».
Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam melalui beberapa orang yang sedang melakukan penyerbukan kurma, beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Kalaulah kalian tidak melakukan hal yang demikian maka hasilnya akan baik”. (Para sahabat mengikuti perkataan beliau) kemudian hasil kurmnya jelek. Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam melalui mereka lagi dan berktanya, “Mana kurma kalian?” mereka mengatakan, “Engkau katakan demikian dan demikian (agar tidak menyerbukan kurma)” . Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Kalian lebih paham berilmu tentang urusan dunia kalian” .
Ahli Fiqih Zaman ini, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah mengatakan barkaitan dengan hadits di atas, “Seandainya ilmu semisal ilmu di atas yang Allah 'azza wa jalla memuji orangnya maka sudah pastilah Allah jadikan beliau sebagai orang yang paling tahu tentang ilmu tersebut karena orang yang paling banyak Allah puji ilmu dan amalnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam” . Akan tetapi kita lihat bersama dalam hadits di atas tegas menunjukkan bahwa beliau bukanlah orang yang mengetahui ilmu masalah penyerbukan kurma di atas (baca : ilmu dunia) sehingga jelaslah ilmu yang Allah janjikan akan ditinggikan derajat pemiliknya adalah ilmu syar’i/ilmu agama islam dan bukan sama sekali ilmu dunia.
lengkapnya silakan rujuk link berikut
http://alhijroh.co.cc/aqidah/ilmu-dunia-atau-ilmu-akhirat/